Senyum Hitam
Aku ingat saat kamu terakhir kali tersenyum kepadaku. Saat itu langit sudah menghitam dan tak ada bintang. Di pekarangan rumah yang dipenuhi dengan bunga-bunga. Kolam ikan yang menyuguhkan gemericik air terjun buatan Ayahmu. Dua bangku dan diapit oleh satu meja kecil, yang di atasnya tersedia minuman cocktail dan voodcha. Kita minum tapi kita tidak mabuk. Aku ingat saat kamu terakhir kali tersenyum kepadaku. Kamu mengatakan keikhlasanmu melepas semua ini dan melapangkan perasaanmu. Kamu juga bertingkah seakan-akan kamu tegar dan tidak lemah sambil menggenggam tanganku, dan kamu menatapku dengan miris, sementara Aku dengan tenang berucap dengan tulus: “Selamat tinggal!”. * * * Kini, dua tahun sudah berlalu sejak perpisahan kita di malam itu. Entah bagaimana kabarmu kini. Seolah-olah kamu memang ingin menghilang dari kehidupanku. Atau mungkin kamu memang sudah tidak ingin Aku ganggu. Biarlah, Aku mengerti dengan keadaan ini. Keadaan dimana Aku terpaksa meninggalkan kamu, entah wajib atau...