Posts

Showing posts from 2018

Langit Sepi | Sajak: Seno Gumira Ajidarma

langit sepi tiga burung hitam merendah menggoda ombak orang-orang yang berbondong ke pantai mungkin mencari saudaranya yang lenyap di seberang angin Parangtritis 1976 Penulis  : Seno Gumira Ajidarma Buku     : Mati mati mati

Detak | Sajak: Seno Gumira Ajidarma

pagi berdetak mengejar malamnya arloji berdetak mengejar waktunya pohin berdetak mengejar buahnya sungai berdetak mengejar lautnya siapa berdetak mengejar matinya Yogya 1976 Penulis : Seno Gumira Ajidarma Buka    : Mati mati mati

Musafir Kelana | Sajak: Kuntjoro, ST

Pelabuhan ini kelak kan kutinggalkan. Sudah terlalu lama berdiam disini. Pelabuhan yang dahulu gersang itu Kini telah subur, rimbun menghijau ini sejarah berawal mula... aku berlabuh di Pelabuhan ini secara aneh ya...sangat aneh... Karena Bukan aku yang menuju padanya akan tetapi ... justru ialah yang menepi ke perahuku kuambil saja hikmahnya bahwa rupanya ia telah tertulis di lauhul mahfuz...* dibawa takdir... untuk kami saling bertemu pelabuhan ini begitu tajam tatapan matanya bercahaya... berbinar binar... dan... jenaka... kupandang sejenak saja sangat sejenak aku melihat potensi hebat ada padanya bara apinya hanya butuh pemantik agar berkobar dan perlu arahan agar kobarannya bermanfaat maka tanpa berpikir panjang Akhirnya Perahupun kutambatkan, kuabdikan diri untuk membangun ulang kembali dirinya Kuperiksa sekeliling kiranya apa-apa yang perlu dibereskan dan diperbaiki ternyata memang benar Pelabuhan ini begitu mengagumkan tapi sayang ia tidak terawa...

Si Denok | Cerpen: Danarto

Suara nyanyian rame-rame itu..., Bung Karno siapa yang punya..., semakin mendekati pintu kamar tidur Presiden Soekarno di Istana Merdeka. Udara panas bulan Juni yang penuh kumandang revolusioner, ditingkah riang gembira, dan diakhiri dengan romantisme, memantapkan 6 Juni wajib dimeriahkan. Meskipun orang Jawa tidak pernah mengadakan selamatan pada hari kelahirannya, namun agaknya sayang jika hari ulang tahun Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi, dilewatkan begitu saja tanpa kue dengan lilin-lilin di atasnya yang harus diembus. Kepala rumahtangga istana membawa kue itu dan Bu Hartini mengetuk pintu kamar tidur. Para pagar ayu, yang terdiri dari sekitar tiga puluh orang dara ayu melantunkan suara nyanyian rame-rame itu semakin menanjak, Bung Karno siapa yang punya. Yang punya kita semua.... Dengan ogah-ogahan bangun dari ranjang, Bung Karno berjalan berjingkat-jingkat karena lantai penuh buku yang bertebaran, menuju pintu. Begitu pintu dibuka, Bu Hartini menghambur memeluk Bung Karno dan ...

Gadis Kecil Melintas di Yerusalem | Cerpen: Danarto

Pertempuran terus menderu. Sudah lima jam belum juga reda. Pasukan Israel merangsek pejuang Palestina yang bertahan. Di antara puing rumah dan toko pejuang Palestina menyembul dan menyelinap. Rentetan tembakan tentara Israel mengenai potongan-potongan tembok. Kami terjebak di Gereja Nativity, Yerusalem, tempat kelahiran Kanjeng Rasul Yesus Kristus. Sehabis umrah, kami sekitar lima belas orang menuju Palestina dengan bus. Kami singgah dan menginap di Amman, ibukota Yordania, mandi-mandi di Laut Mati. Dengan sejumlah bus, kami diangkut bersama dengan turis lainnya, kebanyakan dari manca negara seperti kami, menuju Palestina. Setelah melewati pemeriksaan yang melelahkan, sekitar lima jam, oleh petugas pemerintah Israel yang muda-muda, kami bisa masuk Palestina. Kami tiba di Jericho, kota kecil yang sepi. Terlihat seorang muda Palestina menjinjing senapan laras panjang, melintas. Kami salat Ashar di sebuah masjid yang agaknya sudah menjadi langganan agen pariwisata. Lengang. Kota ini berad...

Ikan-ikan dari Laut Merah | Cerpen: Danarto

Pagi itu saya mengantar beberapa ekor ikan kepada Kanjeng Rasul Muhammad SAW. di rumahnya. Ikan-ikan yang saya jaring dari Laut Merah itu menjadi sumber penghidupan kami. Hidup bersama laut sebagai nelayan dengan keluarga ayah, ibu, dan dua saudara perempuan kami mencipta ikan-ikan seperti mainan yang dapat kita panggil sewaktu-waktu. Ayah pernah bercerita bahwa para rasul dan para nabi boleh dikata tidak makan ikan, namun tidak mengurangi minat saya untuk mempersembahkan ikan yang barangkali saja satu saat dapat menerbitkan selera makan utusan Allah itu. Hidup sezaman dengan Kanjeng Rasul Muhammad rasanya seperti hidup di lingkungan yang tertata rapi dengan sendirinya. Dalam segala hal, kami umatnya, diayomi seperti bibit tanaman kecil yang dipeluk dalam dadanya dari badai gurun. Beberapa ekor ikan yang saya persembahkan itu diterima sendiri oleh Kanjeng Rasul. Waktu itu hari telah beranjak siang, beliau sedang menjamu makan beberapa orang tamu. Kesibukannya sehari-hari tak mengurangi...

Jantung Hati | Cerpen: Danarto

Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Udara sangat panas. Angin kencang. Angin berdebu. Keringat kota diperas habis-habisan. Matahari terbahak. Pelabuhan menjerit. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Orang-orang tak mau tahu. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. Ini Metropolis, Bung! Sejak kapan para sopir angkot itu mendahului para arsitek dengan berteriak, "Ini Metropolis, Bung!" Mengurusi diri-sendiri saja hampir-hampir tak becus, bagaimana mungkin harus menanggulangi kebutuhan orang lain. Kerjakan yang mesti dikerjakan. Tinggalkan yang mesti ditinggalkan. Seperti anak laki-laki 10 tahun yang terus berlari itu. Ia tak mau tahu dengan urusan orang lain. Ia sedang diburu kebutuhannya sendiri. Ia tak mendapatkan bus atau angkot, ia terus berlari. Ia tak peduli. Ia menuju ke arah selatan. Barangkali ke Jakarta Pusat. Alangkah kencang larinya. Apa ia tak punya pusar? Hanya orang-orang yang tak punya pusar b...

Kacapiring | Cerpen: Danarto

RUMAH sakit ini rasanya menebarkan arus kematian. Terasa pada tengkuk dan telapak tangan yang dingin. Lorong-lorong yang lengang mengantarkan kereta jenazah yang bergulir sendirian. Bau obat pengepel lantai yang menelan nasi bungkus pada kemasan air minum yang kempis. Barangkali di ranjang sebelah seorang pasien sedang bergulat memperebutkan nyawanya dengan Malaikat Izrail. Ketika adzan subuh terdengar, saya masih malas bangun dalam tidur duduk dengan kepala terkulai di ranjang Astri, anak saya yang berumur 12 tahun. Astri telah tiga hari pingsan, belum juga ada tanda-tanda mau siuman. Para dokter tidak tahu kenapa lama sekali Astri pingsan.Anak-anak yang sehat, energetik, dan periang, yang mewarisi watak saya yang selalu dalam keadaan senang, sebenarnya tidak mungkin begitu mudah jatuh pingsan. Dunia memang penuh penderitaan, tetapi lupakanlah itu dan rebutlah kegembiraan hidup untuk selama-lamanya. Itulah yang pokok, saya pikir, yang saya ajarkan kepada anak-anak dalam mengarungi hid...

Lauk Dari Langit | Cerpen: Danarto

Hari masih pagi ketika gadis kecil itu berjingkrak-jingkrak ke sana ke mari sambil berteriak-teriak, "Hujan ikan! Hujan Ikan!" Kepalanya menengadah menatap angkasa mencari tahu apakah ada lubang menganga nun di atas sana dari mana ikan-ikan melayang beramai-ramai terjun ke bumi. Gadis kecil itu juga berlari mengitari gubuk tempat tinggalnya dengan teriakan tak berkeputusan, "Hujan ikan! Hujan ikan!" Ayah dan ibunya, juga dua kakaknya muncul dari dalam gubuk sambil menatap ke udara. Sesaat ratusan ekor ikan menghujani keluarga itu. Dengan mulut menganga, beruntun ucapan "masya Allah", tak disadari keajaiban sedang berlangsung di kediaman mereka. "Hujan ikan! Hujan ikan!" teriakan gadis kecil itu terus-menerus penuh kegembiraan. Keluarga itu lalu memunguti dengan cekatan ratusan ekor ikan yang berserakan di rerumputan pelataran, kebun, dan atap gubuk mereka. "Subhanallah," berulang-ulang terlantun dari mulut mereka. Apa yang se...

Nistagmus | Cerpen: Danarto

SUBUH itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Istri saya memberi tahu, banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Istri saya belum menemui mereka. Anak-anak yang bersiap ke sekolah, setelah sarapan, menjenguk lewat jendela. Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Saya rasa kali ini juga begitu. Karena istri saya gelisah, saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit, saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah, mengular sampai jalanan. Ada apa? Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Di samping para tetangga, juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. Kadang datang berbondong. Ta...

Pohon Yang Satu Itu | Cerpen: Danarto

Pohon yang satu itu tegak di tengah kota. Membelah jalan besar, lalu-lalang kendaraan bising, pohon itu menjadi monumen hidup. Makin hari pohon itu makin membesar dan meninggi. Sejak malapetaka gempa dan tsunami pada Ahad, 26 Desember 2004, tiba-tiba saja pohon itu sudah mengangkangi kota, seperti muncul dari dasar bumi setelah ribuan tahun tertimbun tanah dan peradaban. Di bawah pohon itu masih bertimbun jenasah-jenasah para syuhada, ribuan jiwa jumlahnya, tak seorang pun kelihatan lewat di bawahnya. Laut telah membungkam segalanya. Laut telah menelan jerit tangis. Hari demi hari berlalu dengan lengang dan kepedihan. Tak terusik oleh angin, panas terik, dan kenangan. Apa yang bisa dicatat dari derit pintu yang karatan. Apa yang bisa dicatat dari jirigen minyak tanah yang dimain-mainkan gelombang di tengah samudera. Di dalamnya telah merekam peluh dan keluh ibu yang berburu kebutuhan dapur. Ayah telah menyelam ke dasar lautan mencari jawab dari penderitaan sambil membawa anak-anaknya y...