Posts

Showing posts from May, 2008

bukan lagu "Aku Cinta Kau & Dia" tetapi ini tentang "Kau Cinta Aku dan Dia"

Mungkin orang-orang akan menganggap aku lelaki yang sangat bodoh karena telah dibutakan oleh cinta. Tidak memakai logika, terlalu sok tegar dan kuat dalam menghadapi kemelut cinta yang terjadi di kehidupan saya ini. Setelah wanita yang aku cintai ternyata selama ini membelah hatinya da memendam perasaan cinta kepada lelaki yang lain. Seharusnya setelah mengetahui keadaan ini aku harus melepaskannya dan meninggalkannya dengan disisipi sedikit rasa benci karena perasaanku telah di khianati. Ya, di khianati walau baru sebatas perasaan karena belum sampai pada tahap 'jadian' lagi. Tapi apa iya, cinta yang buta harus terus-terusan dibiarkan menjadi buta dan membiarkan takdir berpihak bahwa cinta buta adalah mutlak dan tidak ada pengecualian selain penilaian terhadap cinta buta adalah buruk adanya? Aku memaafkan dan memberikan kesempatan lagi kepada wanita yang aku cintai bukan karena aku dibutakan oleh cinta yang saya miliki untuknya. Juga bukannya karena aku tidak memiliki logika, ...

Kunang-kunang di Matamu

kepada: a.n Dari mata itu, aku melihat dengan jelas bagaimana kunang-kunang itu keluar secara perlahan lalu terbang mengitari wajahmu dan terbang kembai menuju angkasa. Mulanya hanya satu, lalu dua, sepuluh, hingga ratusan atau mungkin ribuan kunang-kunang berkarnaval menuju angkasa dengan kerlap-kerlip serupa percikan kembang api. Aku temukan tatapan mata yang kosong itu di wajahmu, setelah kamu mengakhiri cerita tentang masa yang telah jauh berlalu dari hidupmu. Mulanya kamu semangat sekali bercerita tentang satu masa, dimana cinta --ku ingat setiap kali kamu menyebut kata cinta, di matamu seperti mengeluarkan kilau cahaya-- membuatmu seperti manusia paling bahagia. Senyuman yang tidak pernah terputus sepanjang ceritamu tentang asmara yang menggelora di masa indahmu, dulu. "Betapa sempurna hidupku, mendapat pasangan cinta yang sempurna seperti dia", katamu dengan senyuman yang sangat dalam sampai matamu terpejam. Aku yang masih belum bisa mengerti tentang cinta dan segala k...

Belajar Menulis

entah, aku tidak tahu harus menulis apa, tapi aku sangat ingin menulis, membuat rangkaian kata-kata yang entah tentang apa agar batinku terpuaskan karena telah menulis. biasanya yang seringkali keluar dari pikiranku saat menulis adalah perihal kesepian akan hidup, tapi untuk saat ini aku tidak merasakan kesepian. aku merasa hidup dalam keriangan dan kegembiraan karena aku dikelilingi oleh malaikat-malaikat yang berhati riang gembira. selalu membuatku tersenyum dan tertawa dengan segala omongan dan prilakunya. jadi untuk sementara memang aku tidak bisa, atau berpura-pura kesepian untuk mau menuliskan tentang rasa sepi. aku sedang tidak ingin memikirkan tentang kesepian, karena aku takut terbawa arus khayalanku yang akibatnya aku merasa memang seolah-olah kesepian. karena kesepian itu adalah kesedihan dan sesuatu yang menyakitkan. aku rasa bukan solusi yang tepat bila harus memaksakan untuk menuliskan itu sekarang ini. aku pun sedang tidak bisa menulis tentang rasa yang patah hati karena...

Dia, Teman Dekatku

Harusnya kamu tidak perlu berlebihan dalam menyandarkan lelahnya hidupmu di pundak kehidupanku, karena hal itu hanya akan menyulitkan perasaan kita berdua. Bukan, bukan aku tidak menginginkan dekat denganmu. Tapi keakraban kita ternyata menanam satu bibit bahaya yang pada akhirnya nanti akan tumbuh dan berkembang menjadi satu ancaman yang akan membahayakan kedekatan kita sebagai seorang teman. Sampai akhir bulan yang lalu aku masih sangat nyaman saat kamu datang menghampiriku. Ya, kamu yang selalu saja meneleponku di saat langit di selimuti hitam yang membawa keremangan dan kadang membawa perasaan gamang. Meminta sedikit waktuku, bahkan meminta malamku untuk menemanimu menghabiskan malam bersamamu. "Temani aku malam ini, aku ingin melanjutkan menghitung bintang-bintang yang kemarin terputus karena terhalang oleh mentari pagi yang tiba-tiba datang dari ufuk timur", katamu kepadaku dengan lirih dan bujuk rayu yang akhirnya membuatku hanya bisa mengangguk menyetujuinya. Lalu k...

Senja & Kemuafikan

Seharusnya tak ku kutuk senja di sore hari ini karena sungguh, seandainya aku tidak munafik aku akan mengatakan dengan sesungguhnya bahwa pendaran kemilau senja yang tadi ku lihat di atas gedung bertingkat duapuluh tujuh itu benar-benar sangat indah dan syahdu. Sepuhan warna merah transparan berhasil membuat semua benda-benda yang tersinarinya terlihat menjadi manis. jalan raya, mobil, motor, pepohonan, manusia-manusia yang berlalu lalang, gedung-gedung yang menjulang ke angkasa.. Tapi ternyata jiwaku memang telah di gerogoti oleh kemunafikan-kemunafikan yang datang berbondong-bondong menyerbu jiwa indahku lalu mengobrak-abriknya dan menjadikannya ruang hitam yang meng-esa-kan kebencian. Sudah terjadi dan aku tidak ingin menyalahkan diriku atas kejadian kemarin, dimana satu kemunafikan aku biarkan masuk ke dalam jiwaku dan aku manjakan. Setelahnya aku terlena oleh kemunafikan itu dan membiarkan kemunafikan-kemunafikan yang lain menyetubuhiku terus menerus. Hingga kini aku menjadi bagia...