Posts

Showing posts from 2023

DIMUKA CERMIN | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

kutemui sekarang, orang yang sering menggangguku dengan bisik-bisik Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

SUMUR | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

aku melihat bahwa ada seseorang yang ingin sekali merayapi dinding-dinding sumur dan naik keatas bumi yang belum pernah dikenalnya. ia ingin sekali aku menjenguk kedalam sumur lama-lama, sementara ia bisa menatap langit sepuas-puasnya. ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

TAHANAN YANG MENATAP TERLALIS BESI DIAM-DIAM | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

kuingin bulan menjenguk kamarku yang gelap dan lesu dari balik terali-terali itu ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

ADA YANG MENJERIT MEMANGGIL NAMAMU | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

kau dorong pintu perlahan-lahan dan terkejut sesuai menyumpal ditenggorokan kau tercekik tak bisa bernafas lidahmu terjulur. Ya, kau sadari kin telapak kakimu dingin lututmu dingin pinggangmu dingin dadamu dingin lehermu dingin dan kau sadari bahwa kau tak merasa sakit waktu tubuhmu terbanting keras dimuka pintu, lalu ada  yang menjerit memanggil namamu ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

PAGI | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

tentang kabut, embun dan rumput tentang timur, angin dan matahari tentang desir, desau dan asap kemarin baru saja kau katakan : kita terlalu banyak bicara tentang soal-soal yang mengusik tidur kita ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

PERJALANAN | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

awan yang menggumpal berarak-arak tetes hujan yang jatuh dipegunungan mata air, sungai dan m uara punggung lautan yang diusap matahari ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972 

DIBALIK PINTU KUNING BERDEBU | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

dibalik pintu kuning berdebu terdengar suara langkat makin mendekat sementara aku berjalan kearah pintu tiba-tiba terdengar detak-detak jantungku seperti suara langkah yang makin menjauh dibalik pintu kuning berdebu ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

DALAM SEBUAH SAJAK | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

dipantai matahari mendesiskan kata kata senja sisa-sisa ombak menyapu ujung jari kaki diujung sana seorang gadis tersenyum padaku kuremas kertas sajakku, semuanya lenyap ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

SEPUCUK SURAT YANG DATANG MALAM HARI | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

ketika itu aku sedang menyisir rambutku dimuka cermin dikamar adikku malam hari waktu sepucuk surat kutemukan terselip dibawah pintu. kulihat namaku pada alamatnya, kubaca nama sipengirim lambat-lambat, sedemikian lambat hingga tak kusadari bahwa aku tak melihat lagi wajahku dicermin setelah aku selesai membacanya. ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

PAGI ITU | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

  Pagi itu aku terkejut waktu bangun tidur kujumpai karangan bunga ikut berduka dengan namamu pada kertanya.   Dan aku semakin terkejut saat tengkukku menjadi dingin dan aku seakan dilemparkan oleh kekuatan yang luar biasa keruang angkasa tanpa bintang. ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

HALILINTAR | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

dan kaupun terkejut ketika kau dengar namamu disebutnya cepat-cepat ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

SEEKOR ANAK AYAM YANG BARU MENETAS | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

seekor anak ayam yang baru menetas menyeruak, mengerdipkan mata pada dunianya yang baru. ketika kucekik lehernya seakan terdengar jeritnya : alangkah pendeknya hidup ini! ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

KITAPUN TERDIAM SEKETIKA | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

kitapun terdiam seketika waktu sedang asyik mengobrol sambil minum kopi sore itu (ada jeritan dibelakang rumah) kitapun terdiam seketika waktu istrimu mendahului kita waktu sedang asyik mengobrol sambil minum kopi sore itu dibelakang rumah (ada jeritan dimuka rumah) kitapun terdiam seketika waktu aku belum menyadari bahwa kaupun diam-diam menyusul istrimu waktu sedang asyik mengobrol sambil minum kopi sore itu dimuka rumah ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

PERCAKAPAN DALAM KAMAR | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

sss! hati-hati dinding bertelinga bertelinga keriput keriput rapuh ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

ANGIN ITU MENYUSUP DIKETIAK | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

angin itu menyusup diketiak ada rasa haru merembes dada air diparit bergolak sedikit tujuh lautan kering seketika sekelompok awan menguap bersama ada nasib ditempa disana ---------------------------- Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

PANORAMA | Puisi: Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

dipandang salju tanduk rusa tergeletak bisu Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

DICELAH LEMBAH, KABUT ITU TURUN | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

dicelah lembah, kabut itu turun beribu helai daun jadi berembun kau yang sedang tidur tersentak lalu diam, pikatku mengguyur dalam sejuk mimpimu Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

SEEKOR ULAT DALAM BUAH JAMBU | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

aku terkejut melihat seekor ulat menggeliat dalam buah jambu ketika aku akan memakannya aku termenung sesaat, kupikir mungkin ulat itu ingin berbisik bahwa ia sama laparnya seperti aku Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

DAN KITAPUN TERSENYUM BERSAMA | Sajak: Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma)

dan kitapun tersenyum bersama waktu ada sesuatu yang bermakna tersangkut dibibir dan lepas bersama kata ada yang mendesir dalam dada saat sepuluh jari-jari kita, satu melekat entah lepasnya Buku: Mati Mati Mati Penulis: Mira Sato Penerbit: Pabrik Tulisan Yogyakarta 1972

Vampir | Cerpen: Intan Paramaditha

  Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku. Kami datang dari tempat yang sama, sempit, gelap, basah, merah. Tapi ia tak menginginkanku karena ia kira aku menyusu ibu serigala. Sebenarnya dulu aku tak pernah bercita-cita menjadi sekretaris. Jika ditanya apa cita-citaku semasa kecil, aku selalu mengatakan ingin jadi dokter, seperti juga ribuan anak kecil lainnya. Tapi saat aku tumbuh dewasa, ibuku mengamati sifatku yang rajin dan serba teratur. Aku suka membuat daftar pelajaran, anggaran uang jajan, atau daftar belanja. Aku tergila-gila pada pengelompokan. Di kamarku ada kotak-kotak khusus untuk kaset dengan aliran musik berbeda. Aku bahkan tahu baju apa yang akan kupakai hari Jumat dua minggu mendatang. Kata Ibu, “Kau lebih cocok jadi sekretaris ketimbang dokter.” Selepas sekolah menengah aku pun masuk Akademi Sekretaris. Separuh alasanku adalah ingin memaksimalkan potensiku, separuhnya lagi adalah karena untuk menjadi dokter aku harus menyukai biologi, sedangkan satu-sat...

Pemintal Kegelapan | Cerpen: Intan Paramaditha

Semasa kecilku Ibu selalu berkisah tentang hantu perempuan yang menghuni loteng rumah kami. Dulu aku ketakutan setengah mati sehingga kusembunyikan kepalaku di balik bantal bila malam tiba. Meski begitu, tidak ada yang lebih menggelitik fantasiku selain cerita misteri. Aku selalu menganggap diriku detektif cilik dengan rasa ingin tahu berlebih. Malam hari yang kerap diwarnai bunyi-bunyian gaduh dari arah loteng mengundang jiwa penyelidikku. Sebenarnya bunyi itu hanyalah tikus yang berlari-larian, namun masa kecil membuka ruang imajinasi tak berujung. Aku berkhayal di sana ada harta karun tersembunyi dalam peti. Untuk membukanya kita harus terlebih dahulu melawan penjaganya, yakni seekor laba-laba raksasa yang membungkus tubuh korbannya dengan jaring sebelum menyantapnya. Ruangan itu begitu gelap, namun begitu menyalakan lilin kau akan melihat mayat-mayat manusia tergantung kaku. Siang dan malam kucoba mengintip loteng rumahku, namun Ibu selalu menguncinya. Aku senantiasa berharap, saat...