Posts

Showing posts from 2006

Beri Aku Cahaya

Sinarmu hilang di kehidupanku Duniaku gelap tanpa setitik cahaya Berjalan merayap menyeret langkah Entah kemana entah ada dimana Tuhanku, yang Maha Menguasai Cahaya Pendarkanlah sedikit sinar-Mu untukku Untuk duniaku dan kedalaman hatiku Agar benderang dan ku tahu langkahku Salemba Tengah, 29 Desember 2006

Malam, dan Aku Semakin Renta

Detik-detik berlalu dengan menggebu Berganti menjadi jutan malam Ribuan kali bulan sabit berubah Menjadi purnama dan menjadi sabit kembali Bintang-bintang angkasa menua Dan jatuh berceceran di beberapa sudut bumi yang lain, padam. Angin mati, tapi waktu tetap berlari Pengap semakin menjadi Dan aku semakin renta, rapuh. Detik-detik bermaraton sendirian Tanpa ada tujuan akhir Memang seperti inikah hidup Tak tahu kapan memulai dan kapan harus berhenti? Aku lelah, ingin istirahat Tidur nyenyak dan panjang.. Duren Sawit, 10 Desember 2006

Hujan Kenangan

Siang ini hujan. Deras. Dingin tidak dapat aku elakkan. Masuk ke dalam pori kulitku. Membuat aku mengigil.. Para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor banyak yang menepi, mencari tempat berteduh. Disalah satu minimarket yang berkanopi cukup luas, di toko-toko dan ruko-ruko yang berkanopi seadanya. Asalkan tidak terguyur derasnya hujan. Walaupun tetap saja kencangnya angin membuat tubuh dan wajah mereka terkena tamparan-tamparan halus air. Ada beberapa dari mereka memilih melanjutkan perjalanan karena sudah terlanjur basah kuyup atau mungkin karena tergesa-gesa oleh sebuah janji atau karena memang ingin menikmati dingin air hujan atau juga karena memang ingin melanjutkan perjalanan tanpa alasan apa-apa karena hidup adalah suatu perjalanan tanpa henti yang harus tetap di tapaki walaupun aral banyak mengusik merintangi gerak laju langkah kita. Hujan disiang ini menerawangkan ingatanku pada satu tangisan yang sangat lirih. Menyesakkan. Tangisan seorang wanita di suatu malam. Malam deng...

Lukisan Bayangan

Kulukis malam dengan arang Lalu ku arsir setiap lekukan gelapnya Juga dengan arang Kuteliti setiap sudut malam Setelah itu Ku telusuri setiap sudut lukisanku. Ohh, aku lupa! Ku bingkai lukisan malamku dengan lis hitam ukiran rembulan Agar menawan yang pastinya Jadi! Lukisanku telah selesai! sempurna, dan aku lega.. Lalu aku taruh lukisanku di dalam gudang yang selalu ku kunci rapat Tanpa cahaya Dan tanpa udara Bersama lukisan-lukisan malam Yang kemarin… Duren Sawit 03 Desember 2006 - 23:57

Nyanyian Hujan (Rindu)

Image
Nyanyian hujan mendayu-dayu Meratap mengemisi kehangatan Yang hilang berganti gigil Beku dalam dingin, dalam dingin. Rintikan air jatuh dengan lambat Memilih sendiri atau bergabung dengan rintik yang lain di sebelahnya Sebelum akhirnya terdampar bersama malam Hujan bernyanyi tentang kerinduan Tentang hangat yang telah padam Hujan menangis dan terus bernyanyi Sunyi dalam gelap, dalam malam Dimana hangat, hujan bertanya dengan sunyi Tik..tik.. hanya terdengar tetesan Air hujan membentur aspal hitam Selebihnya tak ada jawaban Tapi hujan terus bernyanyi Dan terus menangis… Salemba Tengah, Awal Des 2006

Kangen

Dan, bintangpun menghilang Semesta menghitam Setelah sebelumnya purnama meredup dan lenyap Di ikuti lampu-lampu malam di bumi Malam disepuh hitam Mataku terpejam dalam-dalam Hati kututup rapat Otakku tetap saja melayang Lagi-lagi kamu datang dalam lamunan Huh, Salemba Tengah 01 Desember 2006

Khayalan Biru

Biru, Seperti langit siang Membawa kecerahan Walau kadang memberi kegerahan Hatimupun biru, Seperti langit siang Selalu membuatku ceria Walau kadang mendapat sedih Kadang cerah kadang gerah Kadang ceria kadang sedih Tapi tetap saja aku mencinta Walau mencinta khayalan Toh, masa bodoh dengan kenyataan Yang membuatku menderita Aku menyayangi khayalanku Khayalan mencintaiku Aku dan khayalanku saling mengasihi Satu hal: Aku Tidak Gila!! Salemba Tengah 18 September 2006

Perjalanan Luka 3

Bangku taman ini masih sama seperti satu bulan yang lalu, tidak berubah tempat. Tepat menghadap tugu monas yang berdiri tegak seperti melambangkan keangkuhan. Aku menatap dengan kagum tugu monas yang berkilau megah karena disorot lampu tembak dari berbagai sudut. Beberapa pohon palem juga menancap mantap beberapa meter tidak jauh dariku. Salah satu pelepah dari salah satu pohon palem itu mengering, bergelayutan dan hampir jatuh. Mungkin dengan sekali tiupan angin kencang akan benar-benar terlepas. Tapi angin di malam ini tidak berhembu dengan kencang, melainkan sepoi-sepoi. Dan tetap dingin. Ya, dingin. Dari tempat ku duduk rembulan membentuk sabit tetapi terhalang oleh pelepah-pelepah palem. Posisi rembulan itu ada disebelah kiri tepat bersebelahan dengan tugu monas. Ada tiga pasang muda-mudi duduk diatas rumput. Dua lelaki memainkan gitar dan satu lelaki yang lain memainkan tam-tam. Sedang para wanitanya bertepuk tangan, semuanya bernyanyi; kemesraan ini janganlah cepat berlalu kem...

Tawa Dalam Kesendirian

Haha… Lagi, masa lalu datang dengan membawa kejutan-kejutan Yang walaupun sudah dapat di kira akan terjadi tetap saja menimbulkan perasaan mengenaskan Dan aku hanya bisa menghela nafas. Panjang. Huuhhh… Ternyata kesendirian ini masih terus membuntutiku, dari dulu hingga saat ini. Tidak pernah bosan. Haha… Awalnya aku berfikir bahwa kesendirian telah lelah bergelayutan dipundakku Hingga akhirnya dia memilih melepas dan menjauh dariku, karena berbondong-bondong keramaian dan keceriaan menghampiriku, bermain-main lalu menetap bersama hari-hariku. Tapi tidak, ternyata kehadiran merekapun hanya sementara. Tidak lebih hanya sekedar penghibur. Dan kini kesendirian datang kembali menyergapku dari belakang lalu memasuki jiwaku. Haha… Apakah ada yang lebih mengenaskan di kehidupan ini selain kita yang bersahabat dengan kesendirian??! Yang berdiri ditengah keramaian tetapi terasa sendiri, terasa kosong, terasa sunyi, seperti berada di kota mati? Ada di sekeliling orang-orang tercinta tetapi tidak...

Perjalana Luka 2

malam ini kembali sadari ku sendiri gelap ini kembali sadari kau t'lah pergi Langit disepuh kelabu hampir merata, gulungan ombak menampar batu-batu yang tersusun rapi memanjang ke arah lautan membuat aluanan nyanyian mendayu-dayu. Angin berhembus lembut membawa wangi asin, membelai pelepah kelapa dan membuatnya saling bergesek-gesekkan lalu membuat irama yang terdengar seperti mengiris dan meringis. Kapal-kapal berlayar entah kemana, sesekali terdengar entah dari mana suara peluit kapal yang terdengar seperti rintihan panjang dan tak berkesudahan. Senja, bersinar dengan lemah hanya sesaat lalu tertutup rapat oleh awan kelabu, langit perlahan demi perlahan meremang dan akhirnya menghitam. Aku masih sama seperti satu jam yang lalu, duduk diatas tumpukan batu memandang lautan, memandang langit dan mencoba memandang masa depan dengan bayangan yang samar-samar. Aku tepat berada disini, seperti tahun lalu pada kali kedua kita ketempat ini duduk berdua menikmati lautan sambil memakan nas...

Malamku dan Malam di Monas

Image
Malam ini aku kembali kesini, menyatukan lagi kerinduan yang telah lama terpisah Disini, di tempat ini... Ditempat ini, dibangku taman yang dihiasi lampu taman yang temaram Disini, ditemani lagu-lagu sendu tempo dulu Yang dimainkan anak-anak remaja yang duduk diatas rerumputan dan bersandar dibatang pohon palem Disini, yang juga ada kamu yang kini sedang tertidup disamping kiriku, terlelap. Aku satukan jiwa ini bersama malam Dan berharap tidak ada lagi jahannam Yang datang dan menghujam, dalam Tuhan, biarkan aku dalam damai ini Walau hanya untuk malam ini --dan tetap berharap untuk malam-malam berikutnya. Damaikan aku dengan malam dan dia Wahai kebahagiaan, jangan cepat berlalu Temani aku sampai nanti aku terlelap dalam keabadian Saat ini, malam ini, aku hanya ingin bahagia Dan tentunya dengan kamu, hai kasih.. Monas malam, 08 Oktober 2006

Dan Renjani pun Tersenyum,

Sebenarnya, saya sangat malu untuk mengakuinya. Ternyata kini saya juga sangat menyayangi saudara. Saudara memang benar-benar keras kepala dan sangat berani, hingga bisa membuat hati saya luluh. Entah mengapa bisa seperti ini, saya bisa-bisanya jadi jatuh hati sama saudara yang notabenenya bukan tipe saya. Kini saudara berhasil, dan saya kalah. Saudara mampu membuat saya klepak-klepek dengan segala perbuatan saudara, perbuatan yang tidak pernah saya bayangkan akan berbalik menjadi indah. Dasar, saudara ini bisa saja membuat saya menjadi bertekuk lutut. Pada awalnya sedikitpun tidak pernah terbersit dihati ini akan bisa menjadikan saudara sebagai kekasih saya, bukankah dari awal saudara tahu kalau saya tidak sedikitpun menyukai saudara. Tapi mungkin memang benar kata para psikolog pujangga yang sudah hidup di jaman purba kalau cinta bisa tumbuh dari rasa benci. Dulunya benci sekali tapi pada akhirnya jadi cinta sekali. Dan kini aku memang benar-benar merasakannya. Saya yakin, saudara pa...

Lelah

Satu, dua, tubuh sosok manusia datang lalu menegur sambil tersenyum dan menggandeng tanganku sangat erat lalu mendekap tubuhku serta mendekatkan bibirnya hingga menyentuh daun telingaku seraya berbisik hangat, “Berikan saripatimu kepadaku!” Dan aku selalu menjawab sama, “Saat kamu mengenalku, saat itu juga aku menjadi pelayanmu tanpa diminta. Akan aku berikan pelayananku yang terbaik, jangan merasa takut aku akan meminta imbalan karena hanya dengan kamu bersedia menganalku dan mengakui keberasaanku akau sudah sangat senang!”. Tapi tidak!! Mereka datang hanya untuk bersenang-senang. Atau lebih tepatnya: melakuan kesenangan untuk dirinya sendiri tanpa perduli dengan keadaan diriku. Mereka sibuk menghisap dan meraup saripatiku sampai mereka menyadari bahwa aku sudah sekarat terkapar tanpa daya baru mereka berkata? “Ada apa denganmu?” Dan ironisnya anya empat kata itu saja yang terucap tanpa mau menarik tangaku untuk dapat bangkit kembali. Lalu mereka perlahan demi perlahan meng...

Tenang Tuhan,

Tenang saja Tuhan, Aku tidak akan menuntut keadilan atas ketidakadilan di kehidupanku ini. Karena aku sudah dapat mengerti tentang proses kehidupan yang sedang aku jalani sekarang ini. Jalan yang tidak melulu lurus, karena sama seperti jalan-jalan pada umumnya (kecuali tentu saja sirkuit balapan) pasti akan memiliki cabang, lika-liku yang dapat membawa ke suatu tujuan bagi yang menelusurinya. Entah akhir dari persimpangan itu akan membawa kebahagiaan atau malah sebaliknya, kenistaan. Tapi pasti akan ada kesadaran bagi si penelusur jalanan, dia ada di tempat apa dan bagaimana. Dia juga punya sesuatu yang lembut jauh di kedalaman hatinya, yang akan menghentakkan nalurinya bahwa kebenaran akan membawa ketenangan dan sesuatu yang nista hanya melahirkan kegelisahan. Aku pun begitu Tuhan, masih memiliki kesadaran, yang walaupun lemah, dapat memahami apa itu dosa. Untuk sekarang, apakah hidupku ini sedang berada di atas ketidak-adilan? Entahlah, aku tidak mau menebak-nebaknya. Aku yang terbia...

Dan Renjani pun Menjawab, (2)

Aduh... Saudara ini benar-benar blo’on atau emang kepala batu sih. Sudah saya bilang berkali-kali jangan pernah mengharapkan saya, eh masih saja saudara itu ngebuntuti saya. Emangnya saya suka apa di gituin?! Saudara itu sebenarnya manusia yang memiliki otak atau enggak sih? Harus bagaimana lagi sih bilanginnya ke saudara. Saya kan kemarin sudah jelaskan, bahkan saya jelaskan sejelas-jelasnya kepada saudara bahwa untuk sekarang ini saya tidak ingin menjalin kasih sayang dengan siapapun, apalagi sama saudara. Saudara memang bodoh ya, tolol, goblok!!! Masih saja saudara mengejar-ngejar saya. Saudara ini mungkin memang tidak punya kepekaan ya, tidak punya rasa malu. Kejadian yang masih saja berulang, dan terjadi lagi, dan terus terjadi lagi adalah saat saudara berbicara tentang kerinduan. Yang selalu saja setiap saya mau mendengarnya jadi benar-benar muntah. Saudara itu sok, bener-bener sok mengerti tentang kerinduan dan bahkan saudara itu b...

Dan Renjani pun Menjawab, (1)

Saya tidak pernah mengerti dengan jalan fikiran saudara, sungguh saya pusing sekali. Saudara ini terlalu percaya diri sekali, menganggap saya sebagai kekasih saudara dan menyebarkannya ke semua orang. Padahal jelas-jelas saya ini bukan siapa-siapanya saudara. Lagipula atas dasar apa saudara ini ngaku-ngaku sebagai kekasih saya? saudara tidak pernah mikir atas prilaku saudara ini yang secara tidak langsung mencemarkan nama baik saya. Setiap saya pulang dan berpapasan dengan siapa saja di lingkungan rumah, mereka tiba-tiba saja bilang kalau saya kekasih saudara. Terus terang saya merasa risih. Tahu. Lagian saudara ini, dari dulu sudah saya kasih sinyal kalau saya tidak menginginkan saudara, tetapi saudara saja yang sangat tidak peka. Masih terus mengejar-ngejar dan terus ingin mendapatkan saya. Perlu saudara tahu, saya itu tidak pernah menyukai saudara, tolong camkan itu. Kalau selama ini saya berlaku baik sama saudara, itu semata-mata karena saya kasihan sama saudara. Apalagi kalau meli...

Mati

Mati... mati... Kematian sangat santer aku cium, sungguh menyengat! Benarkah aku akan mati dalam waktu dekat? Aku tidak bisa memastikan, tetapi Malaikat Maut seakan-akan selalu membuntutiku setiap kali ku berjalan di kegelapan malam. Mengintaiku dengan matanya yang tajam, anehnya saat aku menoleh ke belakang aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Karena hanya keremangan dan kesuraman yang ada. Dan aku merasakan bulu romaku berdiri. Dan juga hati yang berdesir. Apakah aku sok tahu tentang aroma kematian? Biarlah aku beritahu kepadamu bagaimana sesungguhnya aroma kematian itu dapat aku rasakan. Memang terlalu mengada bila ceritaku ini tidak di iringi dengan penalaran yang mendalam tentang sesuatu yang irasional. Berawal dari kecemasan-kecemasan dan ketakutan-ketakutan yang datang begitu tiba-tiba di kehidupanku. Mereka datang dengan kelebatan yang sangat cepat dan menyelimuti tubuhku dengan asap-asap gelap dengan seketika. Itu terjadi pada malam hari, disaat aku duduk-duduk di trot...