Posts

Showing posts from December, 2005

Cerita Tentang Ketenangan

1. Ketenangan datang mengetuk pintu Hatiku dengan tangannya yang lembut, “Permisi wahai Hati, bolehkan Aku masuk?” Ketenangan menyapa dengan kehalusan, setelah Aku membuka sedikit daun pintu Hatiku. Lalu ketenangan menceritakan perihal kedatangannya, “Biarkan Aku singgah wahai Hati, walau hanya sementara, untuk bercerita. Aku adalah ketenangan yang sangat membutuhkan ketenangan. Aku adalah ketenangan yang tidak memiliki cahaya. Aku membutuhkan cahaya ketenangan, apakah kamu memilikinya wahai Hati?” Dan Aku tersenyum. Lalu Aku membukakan pintu Hatiku untuk ketenangan. “Masuklah, hai ketenangan”. Ketenangan masuk dengan langkah yang terseok, dan setelah mendekat langsung memelukku, lalu menangis... Lama Aku terpaku atas apa yang terjadi, lalu... Ku belai ketenangan yang sedang butuh ketenangan! Ku kecup ketenangan yang sudah tidak memiliki cahaya! Ku peluk ketenangan yang sangat menginginkan cahaya ketenangan! Kemudian kenangan bercerita, “Ketenanganku telah terenggut oleh seorang pecint...

Cerita Di Suatu Senja Yang Pucat

17:47 Detik ini Aku yakin engkau sedang bersamanya, bersama kekasihmu berduaan di pinggir pantai dan sambil memandang senja yang untuk di hari ini terlihat agak pucat… Mungkin alam sudah lebih dahulu berduka untuk peristiwa yang akan terjadi dengan kalian berdua Walau engkau tidak memberi tahu kepadaku, tapi Aku dapat menangkap sesuatu yang Aku sendiri tidak begitu mengerti, begitu kuatnya berada di dalam dada ini, dan membayangkan dengan sangat pasti bahwa engkau sedang berada di sana, bersama kekasihmu Bersamanya, berbicara tentang hati yang luka dan harus tersembuhkan agar tidak bertambah besar serta menghilangkannya agar tidak berbekas. Setelah senja ini berlalu Aku bisa membayangkan engkau dengannya akan ke suatu tempat yang dulu pernah dua kali kita kesana –jembatan yang menghubungkan kita dengan lautan! Disana obrolah serius tentang hubungan kalian, akan dimulai... 18:24 1- Aku membayangkan kamu disana sedang menangis dan mungkin dengan sedikit ratapan agar dia bersedia dengan...

Tanpa Arti

Ku rajut benang kerinduan dengan janin kematian Dan ku bentuk menjadi baju hangat yang akan melindungiku dari dinginnya keterasingan akan diriku sendiri Tetap saja, walaupun Aku berusaha memahami pikiranku sendiri dan mengikuti kehendaknya, Aku tidak dapat merasakan kepuasan setelahnya. Hal yang terlalu gila untuk ku Akui sendiri: Aku menjadi semakin asing oleh diriku sendiri!!! Bila pikiranku mengatakan bahwa Aku harus menangis tetapi tubuhku ini malah mengekspresikannya dengan cekakakan tawa riang, padahal Aku menyadari bahwa itu adalah keterpura-puraan, kemunafikan. Bodoh, tidak ada kekompakkan antara jiwa dan tubuh ini. Seharusnya Aku berlinangan airmata saat hati ini berduka atau setidaknya ikut bersedih untuk menghargai sang hati. Tapi ini tidak, seperti ada dua kubu yang saling bertolak belakang di dalam diriku ini. Aneh. Keluguanku telah berganti dengan keliaran Ucapanku yang apa adanya menjadi berantakan Dan membentuk suatu ungkapan yang tidak jelas Kesopananku telah berubah d...

Pertanyaan Luka ?

Image
Terbuat dari apa luka itu? Perasaan yang mengiris, membuat hati meringis. Yang dapat menghancurkan keceriaan dan meluluh-lantahkan menjadi partikel-partikel kekecewaan. Menghanguskan kesenangan yang telah tertanam selama berjuta tahun hanya dengan waktu yang sekejap, Membuat asap-asap yang menyesakkan dan meninggalkan abu-abu penderitaan! Terbuat dari apa luka itu? Yang menjadikan kebersamaan sebagai suatu ancaman Dan menganggap kesetiaan adalah ketersia-siaan Sehingga tidak akan pernah dibiarkan tali kasih sayang bersatu bersama di dalam kekhusyukan. Terbuat dari apa luka itu? Yang kini membuatku tersiksa oleh cambukan-cambukan keberingasan hawa nafsu yang menorehkan kepedihan Dan tombak kecemburuan menancap telak tepat ditengah jantung hatiku hingga jiwaku berdarah-darah Serta hunusan pedang yang selalu siap menancapkan kesedihannya disaat Aku lengah akan perasaan yang dalam ini terhadapnya! Terbuat dari apa luka itu? Apakah luka itu karena gejolak-gejolak hati yang sobek? Atau, luka...