Pohon Yang Satu Itu | Cerpen: Danarto

0

Pohon yang satu itu tegak di tengah kota. Membelah jalan besar, lalu-lalang kendaraan bising, pohon itu menjadi monumen hidup. Makin hari pohon itu makin membesar dan meninggi. Sejak malapetaka gempa dan tsunami pada Ahad, 26 Desember 2004, tiba-tiba saja pohon itu sudah mengangkangi kota, seperti muncul dari dasar bumi setelah ribuan tahun tertimbun tanah dan peradaban. Di bawah pohon itu masih bertimbun jenasah-jenasah para syuhada, ribuan jiwa jumlahnya, tak seorang pun kelihatan lewat di bawahnya. Laut telah membungkam segalanya. Laut telah menelan jerit tangis.


Hari demi hari berlalu dengan lengang dan kepedihan. Tak terusik oleh angin, panas terik, dan kenangan. Apa yang bisa dicatat dari derit pintu yang karatan. Apa yang bisa dicatat dari jirigen minyak tanah yang dimain-mainkan gelombang di tengah samudera. Di dalamnya telah merekam peluh dan keluh ibu yang berburu kebutuhan dapur. Ayah telah menyelam ke dasar lautan mencari jawab dari penderitaan sambil membawa anak-anaknya yang tak satu pun ketinggalan. Ibu barangkali telah lebih dulu mengurung diri di bawah rumah sambil menyelesaikan ulekan sambalnya yang belum rampung.


Ketika anak-anak yang menelan nasi goreng sarapannya terakhir lalu melangkahkan kakinya keluar pekarangan rumahnya dengan beban tas bukunya di punggungnya. Tukang kebun sekolah mengangkut sampah dan membakarnya. Jam tujuh pagi semuanya berkejaran dengan waktu. Guru-guru menyeberang jalan menengok ke kiri dan ke kanan, eh, titip kucing yang mengikuti dari belakang. Toko-toko bersiap-siap untuk membuka dagangannya. Lalu-lalang lalu-lintas memburu sesuap nasi guna membangkitkan tulang-belulang gairah hidup.


Ketika udara cerah, panas matahari tak terhalang oleh utang-piutang, tabungan di bank mulai menipis karena belanja yang boros, pertengkaran kecil-kecilan dalam rumahtangga, hidup yang tak hendak--mati yang maunya sendiri, ikan asin yang telah bulukan, o, negeri luhur yang agung, harta karun Nabi Sulaiman yang digondol orang-orang Jakarta, melahirkan kere turun temurun, pesawat-pesawat datang dan pergi, gubernur menatap helikopter yang mengambang di udara, seluruh kawasan berisi kekayaan melimpah bagai dituang dari langit.


Begitulah pohon yang satu itu tegak bagai monumen. Menampakkan diri dari segala jurusan walau tak seorang pun menatapnya. O, pohon, pohon, alangkah kesepianmu. Kamu hanya punya warga yang telah bergeletakan tidur di sepanjang abad, di seluruh pemandangan, di reruntuhan rumah, gedung, kendaraan, di jalan-jalan, di kebun, di sawah, di pohon, di bukit, di atap, dan ditelan laut sepanjang amarah bersama nyanyian dan seruling yang telah lusuh ditiup. Ke sanalah engkau pergi di kedalaman jantung, ke kampung tabungan jiwa yang tak retak.


Pohon yang dari ke hari semakin membesar dan meninggi, pohon dari sejarah, pohon dari jerih payah, jauh dari jangkauan pandang, jauh dari pucuk gunung, jauh dari uluran tangan. Tataplah dengan helikopter coba mencium bau kuncup ujungnya, engkau hanya akan menatap semburat rimbun daunnya yang meninggi lenyap ditelan angkasa raya. Tak sudah, tak cukup mata, manusia yang kesepian, sendiri di alam semesta, menumpang bahtera tanpa tenda, kehujanan, kepanasan, hitam wangimu, putih langsatmu, kesumba birahi di pentas nasib, kau tenteng ke mana jalan yang akhirnya sesat semata, mengaduhlah, mengaduhlah.


Pohon yang lengang. Hari pertama ditelan masa. Hari kedua ditelan ruang. Hari ketiga ditelan rahasia. Hari-hari ditelan angkara murka, tak seorang pun tersisa, ludes semua, udara gelap, tinggal petir di tingkap atap, senandung laju gelombang, angin sakal goyang layarnya, sekianlah segala ucapan, usai sudah pertunjukan. Aceh hikayatmu, Aceh dendangmu, Aceh tarimu, di sinilah pelabuhanmu. Sajak terakhir sudah dibacakan. Bahkan huruf-hurufnya sudah hanyut menyatu dengan gelombang. Tidur di dasar samudera ketiadaan.


Menjulang tinggi bagai galah, menjangkau awan berarak. Menjulang tinggi bagai belalai, merebut titik embun sebelum jatuh jadi hujan. Menjulang tinggi bagai bintang menantang rembulan. Hanyalah pohon. Hanyalah pohon. Rimbun di siang, rimbun di malam. Nyanyian dari jauh yang kepalang datang. Diundang oleh siput, diundang oleh sinar lampu bagan. Pohon bersembunyi pada rimbun daun dari panas matahari. Orang-orang berteduh menguak aduh. Panasnya tujuh. Panasnya gambuh. Semua orang kegerahan namun tak berbekal kipas tapi Tuhan bikinkan tangan dengan lima jari. Daging meluap, penyu dan segala makanan bertaut, hiu memilih rumput laut, vegetarian, dengan kuah tinja meteor.


Hari-hari pohon itu diam menatap ribuan jenasah, puluhan ribu, hari-hari menapaki jejak waktu, hari-hari lengang. Kota mati. Lembah mati. Telah datang tamat yang dinanti-nanti bau kiamat. Hari-hari siang ditutup malam. Hari-hari malam ditutup siang. Terdengar suara-suara orang di dalam rimbunan daun pohon itu. Suara-suara orang. Menjulang. Percakapan orang-orang yang datang dan pergi, berwisata atau sekadar mencari hiburan, sekian hari setelah tsunami, barangkali satu bulan kemudian, dari berbagai propinsi, takjub menatap pohon itu menengadah mencari suara-suara orang ramai yang ditingkah cicit burung-burung maupun tangis bayi.


"Barangkali pohon itu datang dari tengah samudera."

"Pohon yang datang dari langit."

"Pohon sebuah pulau yang tercerabut dari tengah samudera, terbang dibawa gelombang tsunami."

"Pohon yang dilempar di tengah kota seperti kapal-kapal yang berlabuh di antara lalu-lintas ramai pertokoan."


Monumen hidup itu telah menulis catatan harian. Catatan harian sebatang pohon. Suara orang-orang yang terdengar dari dalam pohon itu boleh jadi adalah orang-orang yang selamat memanjat pohon itu ketika kota tenggelam oleh tsunami. Orang-orang tidak mau turun lagi dari pohon, keburu jatuh cinta, karena apa gunanya selalu mengunyah kecemasan. Gelombang itu setinggi gunung yang terus menghampiri dalam mimpi mereka di siang dan di malam. Akhirnya orang-orang yang selamat itu hidup di atas pohon.


Pada tanggal 26 Maret 2005, tiga bulan setelah malapetaka tsunami itu, pada suatu subuh, terdengar tangis bayi dari dalam pohon itu. Orang-orang yang hidup di sekitar pohon itu bersorak. Mereka keluar rumah mendatangi pohon itu dan menatap ke atas seperti ikut berbahagia atas kelahiran bayi itu. Satu dua orang memanjat pohon itu untuk mencari suara bayi itu. Tapi, seperti yang terjadi pada hari-hari sebelumnya, orang-orang yang memanjat pohon itu untuk kepingin tahu apa yang terjadi dengan suara-suara orang di atas itu, tak pernah kembali.


Barangkali itulah bayi pertama yang lahir dari keluarga yang hidup di atas pohon itu. Bayi pertama catatan harian tsunami. Lahir dari seorang ibu yang telah besar kandungannya ketika tsunami datang. Kemudian berita tentang kelahiran bayi di atas pohon itu secepatnya tersebar ke seluruh negeri. Orang-orang dari segala penjuru berdatangan. Mereka mendirikan tenda-tenda di bawah pohon itu untuk mendengar tangis bayi itu. Berhari-hari wisata tangis bayi di atas pohon itu berlangsung meriah karena di samping tenda-tenda, berdiri warung-warung.


Setiap kali terdengar tangis bayi itu, orang-orang piknik itu bersorak. Mereka benar-benar mendapatkan hiburan. Satu dua orang mengikatkan makanan di ranting-ranting pohon itu dengan harapan orang-orang pohon itu mau mengambilnya, tak mendapat jawaban. Kue-kue itu menjadi makanan burung yang ikut memeriahkan tangis bayi itu. Satu dua orang mau memanjat pohon itu tapi orang-orang warung melarangnya, kecuali kalau berani untuk tidak akan kembali ke tanah lagi.


Pada bulan Agustus 2005, ketika orang-orang Eropa dari tim pemantau perdamaian di Nanggroe Aceh Darussalam berdatangan, sempat pula menengok pohon itu. Tapi mereka kelihatan acuh tak acuh. Agaknya mereka tidak begitu percaya tentang orang-orang yang hidup di atas pohon itu, telah beranak-pinak, dalam cara-cara di luar semesta. Mereka mengangguk-angguk sebentar lalu pergi tanpa memberi komentar. Sebaliknya dengan warga kita, makin hari makin banyak yang berdatangan. Lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak, juga bayi, hidup dalam tenda-tenda. Bahkan ada yang membuka usaha di sekitar pohon itu dengan membuka toko kebutuhan dapur.


Untuk sejenak, kesedihan dilupakan. Hidup sebenarnya tidak sesederhana malapetaka tsunami. Hidup adalah alam semesta.



Tangerang, 20 Januari-Agustus 2005


Judul Cerpen     : Pohon Yang Satu Itu

Pengarang        : Danarto

Terbit awal        :

Judul Buku        : Kacapiring

0 comments: