Buat Emak.
Mak,
Maafkan kelakuan anakmu yang tak tahu diri ini.
Ya, Mak, aku memang sungguh tidak tahu diri,
karena setelah sekian lama kita hidup dalam kebersamaan,
baru semalam aku menyadari bahwa Emak selalu ada buat aku
dan bodohnya aku tidak pernah menganggap, apalagi memperdulikanmu, Mak.
Setelah sekian puluh tahun aku hidup bersamamu
baru semalam aku melihat wajahmu dengan seksama, Mak.
Wajahmu yang ketika tidur terlihat tenang, tanpa beban
padahal aku tahu, Emak yang sudah termakan usia
tetapi masih tetap gigih dan tidak mengenal lelah
selalu mencari cara agar dapat membahagiakan anak-anaknya.
Sedang aku, dengan segala kebodohannya,
masih saja tetap menyusahkanmu, Mak.
Masih membiarkan Emak bekerja keras
untuk membantu menghidupi keluarga kita.
Kerutan-kerutan di wajahmu, Mak,
yang malam itu aku lihat sudah menghapiri dan hinggap diwajahmu.
Menangis hatiku, Mak,
Menangis, seperti saat ini,
saat aku menulis sebuah ungkapan tentang kebodohanku ini
yang entah Emak akan bisa membacanya atau tidak
karena dari dulu sampai sekarang Emak tidak pernah bisa mengoperasikan komputer
apalagi main internet..
Emak kini sudah tua, usia setengah abad telah Emak lalui,
seharusnya Emak sudah bisa beristirahat
lepas dari segala kepenatan lepas dari kerja keras membanting tulang
ikut terhanyut dalam kerasnya hidup di jakarta.
Seharusnya Emak sudah bisa merasakan
yang dinamakan menikmati masa tua;
Bangun tidur seharusnya Emak sudah bisa duduk di kursi goyang
membaca koran hari ini sambil menyeruput teh hangat buatan bibi
Tapi dengan usia Emak yang sekarang ini
masih saja Emak sibuk melayani kehidupan kami
mulai dari memasak, mencucikan pakaian kami, membersihkan rumah-rumah,
dan menenangkan segala ketegangan yang seringkali terjadi diantara kami.
Dengan sabarnya Emak, melayani segala kebutuhan kami dirumah
Tapi aku tidak pernah memperdulikan kebutuhan untuk diri Emak.
hhh...
Secepatnya aku harus bertemu dengan Emak lagi,
dan bersujud di kaki Emak memohon maaf atas bahagia yang belum dapat aku beri.
Segera, Mak...
malakasari,
21 Februari 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment