Mati... mati...
Kematian sangat santer aku cium, sungguh menyengat!
Benarkah aku akan mati dalam waktu dekat?
Aku tidak bisa memastikan, tetapi Malaikat Maut seakan-akan selalu membuntutiku setiap kali ku berjalan di kegelapan malam. Mengintaiku dengan matanya yang tajam, anehnya saat aku menoleh ke belakang aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Karena hanya keremangan dan kesuraman yang ada. Dan aku merasakan bulu romaku berdiri. Dan juga hati yang berdesir.
Apakah aku sok tahu tentang aroma kematian? Biarlah aku beritahu kepadamu bagaimana sesungguhnya aroma kematian itu dapat aku rasakan. Memang terlalu mengada bila ceritaku ini tidak di iringi dengan penalaran yang mendalam tentang sesuatu yang irasional.
Berawal dari kecemasan-kecemasan dan ketakutan-ketakutan yang datang begitu tiba-tiba di kehidupanku. Mereka datang dengan kelebatan yang sangat cepat dan menyelimuti tubuhku dengan asap-asap gelap dengan seketika. Itu terjadi pada malam hari, disaat aku duduk-duduk di trotoar pinggir jalan raya yang lengang akan kendaraan, dimana aku sedang terpaku menatap kosong langit tanpa cahaya bulan dan tanpa pendaran cahaya bintang-bintang. Aku memang dibuatnya tidak berdaya seketika. Lalu kelebatan itu membuatku tidak sadarkan diri hingga saat aku tersadar aku sudah berada di bangku taman di sebuah pemakaman. Ternyata terik matahari pagi yang menembus celah-celah dahan pohon kamboja yang meneduhi bangku taman, dimana aku terlelap di atasnya membuat aku terbangun.
Saat aku membangunkan tubuhku, kepalaku terasa berat dan sangat pusing serta mataku agak meremang. Mengapa aku bisa berada di tempat ini? Aku bertanya kepada angin tetapi dia hanya berlalu dan menyisakan sedikit kesejukan atas peluh yang
sedikit membasahi tubuhku serta menyisakan wangi bunga kamboja yang menyengat hidungku.
Aku rebahkan tubuhku yang juga terasa lemas di bangku taman pemakaman. Aku belum tahu mau melakukan apa. Aku tidak dapat berfikir. Saat mata ini kupejamkan tiba-tiba saat itu juga aku langsung dikerubungi sesuatu yang tidak jelas bentuknya tetapi mengeluarkan suara-suara aneh yang memekakkan telinga. Aku tutup kedua telingaku dengan kedua telapak tanganku, tetapi suara itu tetap saja ada. Aku meringkuk dan menjatuhkan kepalaku ke dalam pangkuanku sendiri, aku berteriak tetapi tidak dapat mengeluarkan suara. Ada sesuatu di tenggorokanku yang seakan menahan suaraku untuk keluar. Aku hentakkan kepalaku ke udara dan setelah ku buka lagi mataku aku tidak melihat bentuk-bentuk aneh itu lagi, tetapi hanya pohon-pohon kamboja, nisan-nisan tua, dan beberapa patung malaikat kecil putih dengan busur yang seakan selalu siap untuk di tancapkan kesiapa saja dan kapan saja.
Ada apa dengan semua ini? Apakah aku sedang bermimpi? Ataukah aku berhalusinasi? Aku sungguh tidak mengerti!!!
Setelah agak baikkan, aku bangun dan mengayunkan langkahku keluar dari pemakaman yang sepi ini dengan sedikit sempoyongan. Aku melintasi gerbang pemakaman dan penjaga makam yang entah datang dari mana dengan membawa sapu lidi memperhatikanku dengan seksama dan tatapan penuh keheranan, sebelum dia mengucapkan sepatah kata aku berikan dia senyuman dan lambaian tangan pertanda perpisahan. Penjaga makam itu hanya geleng-geleng kepala, selebihnya aku tidak memperhatikannya lagi.
Aku mencari warung terdekat dan membeli segelas air mineral lalu meneguknya tanpa sisa, tenggorokanku kering dan aku sangat kehausan. Kulanjutkan perjalananku menuju entah kemana? Aku bingung mau kemana, aku tidak tahu ada di sebuah kota yang mana. Orang-orangnya terlihat sangat asing dan aku lihat sekelilingku, banyak bangunan-bangunan yang asing yang sebelumnya belum pernah aku lihat. Apakah aku tersesat? Dimana ini? Aku cegat seseorang yang melintasiku, lalu dia menatapku dengan pandangan yang sangat aneh. Aku bertanya kepadanya apa nama kota ini dan dimana ini, tetapi dia hanya menggumamkan kata-kata yang sangat tidak aku pahami. Tanpa sadar aku menggenggam keras tangan orang itu dan orang itu meronta dan menarik-narik tangannya hingga terlepas dari genggamanku dan berlari sambil menggerutu dengan bahasa yang tidak aku mengerti.
Aku berjalan cepat, setengah berlari, lalu benar-benar berlari bahkan kencang. Aku menelusuri jalan raya, masuk kedalam gang-gang yang tidak terlalu sempit dan tembus lagi ke jalan raya dan aku berdiri tepat di tengah perempatan lampu lalu lintas yang berwarna merah semuanya. Tiba-tiba segala sesuatunya tampak berputar-putar. Tiang lampu lalu lintas berputar mengelilingiku, gedung-gedung tinggi berputar mengelilingiku, awan-awan berputar-putar mengelilingiku, orang-orang berputar mengelilingiku sambil mentertawakanku. Bahkan tebahak.
Aaakkhhh.....!!!
Aku bersujud di aspal dan berteriak sekuat-kuatnya dan berteriak sekeras-kerasnya. Aku terperanjat bangun dan tersadarkan lagi, tiba-tiba aku sudah berada di atas tempat tidur rumahku. Nafasku masih memburu sama seperti saat aku berlari-lari di kota entah dimana itu. Peluhku makin bercucuran membasahi semua pakaianku. Aku dekap mukaku dengan kedua telapak tanganku. Ada apa dengan semua ini? Apa arti dari semua ini? Aku tidak sempat berfikir banyak karena aku keburu mendengar suara adzan Dzuhur dari masjid yang kebetulan memang tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku kembali tenang dan langsung terlelap kembali. Tertidur. Bahkan pulas.
Sebelum maghrib ibu membangunkanku dan mengajaknya makan bersama. Setelah sebelumnya menyuruhku mandi dahulu. Aku mengikuti semua perintahnya. Memang terasa segar sekali saat tubuh ini di guyur air yang agak dingin. Aku mengguyur semua tubuhku dengan cepat sampai-sampai tidak terasa bak mandi yang semula berair penuh kini tinggal seperempatnya bahkan kurang dari itu. Aku nyalakan kran air dan mengisi bak mandi, sambil menunggu air penuh lagi aku membasuh dan mengosok tubuhku dengan sabun mandi dan juga mengeramas rambutku. Segar.
Aku lepas pikiranku, dan mencoba menghilangkan kejadian-kejadian aneh yang baru saja aku alami. Hanya sebentar menghilang tetapi setelah itu ada lagi bahkan tetap mengada di kehidupanku.
Malamnya aku terjaga dan tidak bisa memejamkan mata, aku takut. Karena sedikit saja aku memejamkan mata, seolah-olah akan ada sesuatu yang menerkamku entah dari arah mana. Kejadian yang sama seperti saat aku berada di trotoar jalan raya dan di bangku taman pemakaman entah di sebuah kota yang mana. Aku juga membiarkan lampu kamarku terus menyala agar tidak ada kegelapan yang mengotori kamarku. Aku mengantuk tetapi tidak mau memejamkan mataku, aku takut. Aku ingin tidur tetapi tidak ingin menutup mata ini. Saat mata ini meredup sedikit aku langsung di kagetkan oleh bayang-bayang dan suara-suara yang tidak berwujud. Aku paksakan mata ini agar harus tetap terbuka. Aku sibukkan diri, minum kopi agar mata ini tetap terbuka, aku setel musik, aku membaca, aku mengetik di komputer. Pagi datang dengan di iringi kokokan ayam yang bergema. Kulihat jam weker, sudah jam setengah enam pagi. Huh.
Ini malam pertama aku lalui tanpa mimpi. Bahkan kehidupanku aku rasakan tidak lebih dari sebuah mimpi buruk belaka.
Malam-malam berikutnya aku lalui memang tidak dengan lelapan mata. Tetapi dengan mata yang selalu terbuka. Melek. Hingga di sekitaran mataku terlihat jelas lingkaran hitam yang mengelilinginya. Banyak yang bertanya tentang lingkaran hitam dimataku, tetapi setelah aku ceritakan tentang kejadian yang telah aku alami, tidak ada yang percaya, orang tuaku, sahabat karibku, teman sepermainanku, orang-orang yang baru mengenalku, semuanya tidak ada yang percaya. Tak satupun...
Mula-mula ada sesuatu yang menyesakkan di dada ini. Tidak ada yang lebih menyesakkan hidup di dunia ini selain kita tidak bisa dipercaya dengan orang lain. Tapi setelahnya akupun jadi masabodo terhadap mereka yang tidak mau mempercayai ceritaku. Walau ada yang sampai menganggap diriku sudah gila. Tapi aku sungguh-sungguh tidak mau ambil perduli. Toh, mereka juga tidak bisa membantuku. Sampai akhirnya aku mengucilkan diri, merenung sendiri. Mencoba mendalami setiap kejadian yang pernah aku alami di minggu-minggu belakangan ini. Tapi setelah aku telaah ternyata memang tidak ada sesuatu yang membuatku merasa bersalah, tetapi hanya ada sedikit luka atas cinta yang belum teraih dari seorang perempuan yang aku sayangi. Dan itu bukanlah salahku. Aku rasa.
Aku menyendiri bukan karena aku ingin sendiri, tetapi aku menyendiri karena memang harus sendiri. Aku tidak ingin merepotkan orang banyak. Aku sendirian melawan kecemasan-kecemasan dan ketakutan-ketakutan yang selalu menyerangku kala kupejamkan mata ini. Sampai aku punya keyakinan pasti bahwa ini adalah Maut. Bila aku tidak melawannya aku akan mati. Tapi sampai kapan aku bisa melawannya? Aku tidak bisa menentukan. Tubuhku sudah sangat lelah. Tiga belas minggu aku tidak tidur. Tubuhku semakin kurus walau aku tetap makan dan minum seperti biasa. Mataku semakin menghitam. Kulitku semakin memucat. Tenagaku sungguh terkuras.
Kecemasan-kecemasan dan ketakutan-ketakutan itu memang tidak dapat aku gambarkan wujudnya. Tetapi mereka dapat dengan mudahnya meracuni ketenanganku dan membuat kepanikan didiri ini. Aku dibuatnya menjadi seorang pecundang. Dibuat menjadi pengecut. Yang aku sendiri bingung, padahal aku sudah memberanikan diri sedemikian rupa. Tetapi tetap saja keberanianku menjadi menciut. Menjadi takut.
Mereka memang menginginkan aku mati. Tetapi mereka tidak tahu kalau aku masih punya kekuatan yang aku bangun untuk sebuah cinta yang masih harus aku perjuangkan sampai renta. Tapi entah, apakah cinta itu akan dapat aku dapatkan atau tidak. Karena aku merasa kematian semakin lama semakin mendekatiku.
Ada kemantapan dan juga ada keraguan. Tapi aku menganggapnya sebagai sebuah tantangan.
Sampai kapan? Tidak ada pertanyaan lain lagi yang aku miliki selain itu.
Harus aku adukan kemana tentang peristiwa yang aku alami ini? Kemana aku harus menuntut hak ku ini. Mengapa ketidaknormalan ini hanya berlaku untukku seorang. Bagaimana caranya agar aku bisa memberitahu kepada semuanya, termasuk anda bahwa ini memang benar kisahku. Kisah yang memang aneh.
Dan bukankah sudah aku bilang. Bila mendengar kisahku ini harus dibutuhkan penalaran yang sangat mendalam tentang sesuatu yang tidak biasa.
Tapi sudahlah aku tidak bisa bercerita banyak untuk masalahku ini, lagi pula aku masih belum tahu bagaimana caranya agar ceritaku bisa menjadi meyakinkan. Aku sudah menceritakan kisahku, bagaimana kematian sungguh menyengat aku cium, seakan selalu membuntuti dan hanya tinggal tunggu waktu yang tepat untuk menarik rohku dari jasad ini. Sampai kini. Dan aku serahkan kepadamu bagaimana kamu menyikapi dan menanggapinya. Percaya atau tidak. Aku tidak begitu mempersoalkan. Toh aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku akan segera mati. Jadi, hati-hatilah. Siapa tahu aku akan menjadi roh yang penasaran untukmu. Hanya untukmu, yang telah membaca kisahku ini.
21-22 Februari 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment