1.
Ketenangan datang mengetuk pintu Hatiku dengan tangannya yang lembut, “Permisi wahai Hati, bolehkan Aku masuk?” Ketenangan menyapa dengan kehalusan, setelah Aku membuka sedikit daun pintu Hatiku.
Lalu ketenangan menceritakan perihal kedatangannya,
“Biarkan Aku singgah wahai Hati, walau hanya sementara, untuk bercerita.
Aku adalah ketenangan yang sangat membutuhkan ketenangan.
Aku adalah ketenangan yang tidak memiliki cahaya.
Aku membutuhkan cahaya ketenangan,
apakah kamu memilikinya wahai Hati?”
Dan Aku tersenyum.
Lalu Aku membukakan pintu Hatiku untuk ketenangan.
“Masuklah, hai ketenangan”.
Ketenangan masuk dengan langkah yang terseok, dan setelah mendekat langsung memelukku, lalu menangis...
Lama Aku terpaku atas apa yang terjadi, lalu...
Ku belai ketenangan yang sedang butuh ketenangan!
Ku kecup ketenangan yang sudah tidak memiliki cahaya!
Ku peluk ketenangan yang sangat menginginkan cahaya ketenangan!
Kemudian kenangan bercerita, “Ketenanganku telah terenggut oleh seorang pecinta yang pada awalnya Aku fikir adalah pecinta yang sangat mengagungkan cinta. Seorang pecinta yang Aku bayangkan memiliki kelembutan abadi.
Tapi tidak, terkaanku meleset, ternyata kelembutannya tidak bertahan lama...” ketenangan berbicara dengan pandangan yang kosong, lalu melanjutkan ceritanya sambil menatap wajahku, “kini kelembutannya menghilang dan dia lebih sering menghadiahiku dengan tombak-tombak luka!” Ketenangan berderaian airmata, tetapi tetap melanjutkan ceritanya walau isaknya terasa berat.
“Begitu juga dengan cahayaku, dia juga telah merenggutnya, lalu di buangnya cahaya-cahayaku dan olehnya Aku dipaksa untuk mengganti dan menerima kekelaman Hatinya”. Ketanangan berderaian airmata, sementara Aku terdiam…
2.
Ketenangan terlelap di bangku panjang dadaku. Tidurnya sungguh tenang. Seakan-akan telah lama tidak tertidur. Wajahnya sangat pucat pasi, terlihat sangat lelah memikul berat penderitaan di dalam dirinya.
Ketenangan, oh Ketenangan mengapa kamu menjadi seperti ini?
Dalam tidurnya Aku dapat melihat dari matanya yang terpejam bahwa dia sedang bermimpi berjuang sendirian menghadapi seorang pesakitan yang berkedok menjadi seorang pecinta. Dia terjebak dalam jalinan asmara yang aneh. Kebahagiaan yang dia harapkan akan selamanya ternyata hanya sementara, begitu singkat. Setelah pecinta yang pesakitan itu mendapatkan Ketenangan, lalu ia mengendalikannya dan menistakannya.
Ketenangan mencoba melepas pecinta yang pesakitan itu dengan sisa-sisa ketenangan yang dia miliki agar tidak merenggut ketenangannya. Dia mencoba mempertahankan kodratnya sebagai Ketenangan yang harus tenang. Tapi sayang pecinta yang juga pesakitan itu ternyata lebih perkasa dan lebih-lebih lagi ternyata memang tidak memiliki hati nurani.
Di renggut semua ketenangan yang dimiliki Ketenangan.
Di hisap semua ketenangan yang ada di Ketenangan, hingga tidak tersisa.
Tidak hanya itu, pesakitan yang berkedok pecinta itu juga mengambil cahaya yang selalu menyinari Ketenangan, hingga Ketenangan menjadi padam, kelam.
Ketenangan menjadi bisu, tergeletak tidak berdaya dibawah kaki pecinta yang juga pesakitan, ternyata pesakitan yang berkedok pecinta itu tidak sudah sampai disitu saja, di hunuskannya pedang kebencian tepat di tengah hati Ketenangan hingga Ketenangan menjadi gemetar, lalu Ketenangan berusaha memberontak dan menjerit, dan bisa.
Dalam mimpinya Ketenangan menjerit sangat keras, bersamaan dengan itu Aku juga melihatnya menjerit dengan keras lalu terbangun dari bangku panjang dadaku, dengan keringat bercucuran di seluruh tubuhnya.
Aku eratkan dekapanku lalu kuusap keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya dan Ketenangan sedikit tenang, lalu terisak dan menangis pelan. Aku kembali terdiam.
3.
Tujuh hari sudah Ketenangan berada di dalam diriku, dan Ketenangan sudah mulai bisa bersinar walau tidak terang dalam Ketenangannya.
Lalu Ketenangan berbisik kepadaku, “Terima kasih hai Hati yang memiliki jiwa mulia, karenamulah Aku bisa memiliki lagi sinaran ketenangan yang telah hilang. Walau hanya dengan diam, ternyata kamu dapat membuat Aku merasa nyaman, dan itu yang sangat Aku butuhkan.
Aku mendapatkan sesosok yang tepat untuk Aku dapat menyatukan ketenanganku, sesosok yang diam dan tidak banyak kata, apalagi tindakan. Aku lebih suka dengan sesosok yang pendiam dan tidak banyak bicara karena Aku tahu dalam diammu terdapat jiwa berlian dalam setiap ucapan yang keluar dari bibirmu dan perilaku yang mendamaikan saat kamu bertindak. Kamu memang sosok yang tepat untukku bersandar, untuk melepas lelahku. Terima kasih!”
Lagi-lagi Aku terdiam, tapi dengan sedikit senyum kemenangan...
4.
Ketanangan berseri-seri, berlarian mengelilingi kebun bunga nuraniku yang terhiasi oleh jutaan bunga dengan jutaan warna dan jutaan keharuman sambil mengepakkan kedua tangannya secara perlahan-lahan, seolah-olah ketenangan ingin mencoba terbang. Dan benar saja, setelah sekian lama berlarian dengan senyumannya yang terindah dan mengepakkan kedua tangannya, akhirnya Ketenangan dapat terbang.
Terlihat ia sangat senang sekali, lalu ia berputar-putar keluar masuk awan dan sesekali terbang rendah lalu meninggi lagi untuk berputar-putar secara beraturan seakan sedang membuat suatu gerakan yang secara sekilas dapat diartikan sebagai tanda hati, tanda bunga, gerakannya pun sangat lembut, seperti sedang menari...
Aku yang sedari tadi memperhatikan tanpa sepengetahuannya, menitikkan airmata bahagia. Ternyata Ketenangan telah kembali seperti sedia kala.
Karena terlalu khusuknya Aku mensyukuri perubahan ini, tanpa Aku sadari, tiba-tiba saja Ketenangan sudah berada di hadapanku, mengecup pipi kananku dan memelukku dengan sangat erat, sambil berbisik di telingaku, “Terima kasih untuk segalanya yang telah kamu berikan kepadaku, hai Hati yang damai. Aku tidak akan melupakan setiap pelayananmu terhadapku,” Ketenangan tersenyum bahagia, dan diam sesaat.
Setelah itu Ketenangan menggenggam kedua tanganku dan kembali menatapku, tetapi kali ini dengan tatapan yang haru, Ketenangan terdiam. Dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir yang sedikit bergetar Ketenangan berkata, “Sudah saatnya Aku pergi hai Hati. Meskipun disini sangat membuatku nyaman dan bahagia, tetapi tidak mungkin Aku berada di sini terus menerus. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Maafkan semua perilaku-ku yang membuatmu menjadi mengorbankan segalanya hanya untukku. Aku tidak akan melupakanmu”.
Aku mencoba untuk dapat tersenyum, walau terasa berat tetap Aku paksakan. Lagi-lagi Aku tidak bisa berkata-kata, Aku hanya tersenyum dan sedikit mengangguk lalu tertunduk...
5
“Mengapa engkau harus berlalu dari kehidupanku hai Ketenangan? Bahkan begitu cepat! Aku masih ingin tetap bersamamu, hai Ketenangan. Biarkan engkau menjadi bagian dari diriku.” Aku berkata, tetapi tidak bisa bersuara.
Tiba saatnya ketenangan berangkat setelah berkemas.
“Apakah ada yang ingin engkau sabdakan kepadaku sebelum Aku pergi, hai Hati yang bersih?” Ketenangan bertanya. Dan Aku tersenyum.
“Apakah ada yang bisa engkau lakukan sebelum Aku pergi selain tersenyum, hai Hati yang senantiasa tersenyum?” Ketenangan kembali bertanya. Aku masih tersenyum, tetapi kali ini dengan kekuatan yang diselimuti oleh perasaan tenang yang telah Aku dapatkan dari ketenangan, “ada!”
Ketenangan gembira dan dengan lantang berkata, “Apa itu hai Hati?”.
Dengan lembut Aku berkata, “Maukah engkau bersatu dengan ku hai Ketenangan? Mari kita hidup bahagia dengan meleburkan perasaan kita menjadi satu. Agar kita menjadi satu kesatuan yang utuh. Biarkan Aku terus menjadi pelayanmu, agar Aku bisa terus melayani semua kebutuhanmu, dan agar Aku bisa dapat terus melihat senyumanmu dan agar kamu dapat senantiasa terbahagiakan. Karena disana pun ada kebahagiaanku, saat kamu bahagia.”
Lagi-lagi Ketenangan memelukku, bahkan kali ini dengan keeratan yang tidak seperti biasanya, “Aku tidak mampu membalas semua kebaikanmu kepadaku, hai Hati. Aku takut tidak bisa membuatmu bahagia seperti kamu yang telah membuat Aku sangat amat bahagia. Aku merasa tidak pantas bersamamu, hai Hati yang penuh dengan kelembutan. Maafkan Aku dan ketakutanku ini.”
Tapi Aku mencoba membela, entah ini dapat dibenarkan atau tidak, “Bukankah engkau yang mengatakan kepadaku bahwa Aku adalah sosok yang tepat untuk menyatukan ketenganganmu. Juga engkau mengatakan bahwa engkau merasa nyaman bila bersamaku serta Aku adalah sosok yang tepat juga untukmu bersandar kala engkau kelelahan. Ataukah Aku terlalu percaya diri atas semua pujianmu kepadaku?”
Aku dan Ketenangan terdiam cukup lama, tidak ada kata.
Tidak ada..
6
Ketenangan melepaskan dekapannya, dan berjalan membelakangiku, lalu mengapakkan tangannya, terbang. Terbang menuju angkasa tanpa sepatah kata lagi.
Aku memandangnya sampai menjadi titik dan hilang sama sekali dari pandangan mataku. Aku memandang kekosongan dengan tatapan kehampaan, dan Aku merasa ada sesuatu yang berdesit di kedalaman diriku, perasaan yang tergores seperti teriris. Aku tidak tahu apa itu, dan mencoba menerka, mungkin itu luka...
Salemba Tengah - Duren Sawit
Akhir 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment