Tenang saja Tuhan,
Aku tidak akan menuntut keadilan atas ketidakadilan di kehidupanku ini. Karena aku sudah dapat mengerti tentang proses kehidupan yang sedang aku jalani sekarang ini. Jalan yang tidak melulu lurus, karena sama seperti jalan-jalan pada umumnya (kecuali tentu saja sirkuit balapan) pasti akan memiliki cabang, lika-liku yang dapat membawa ke suatu tujuan bagi yang menelusurinya. Entah akhir dari persimpangan itu akan membawa kebahagiaan atau malah sebaliknya, kenistaan.
Tapi pasti akan ada kesadaran bagi si penelusur jalanan, dia ada di tempat apa dan bagaimana. Dia juga punya sesuatu yang lembut jauh di kedalaman hatinya, yang akan menghentakkan nalurinya bahwa kebenaran akan membawa ketenangan dan sesuatu yang nista hanya melahirkan kegelisahan. Aku pun begitu Tuhan, masih memiliki kesadaran, yang walaupun lemah, dapat memahami apa itu dosa.
Untuk sekarang, apakah hidupku ini sedang berada di atas ketidak-adilan? Entahlah, aku tidak mau menebak-nebaknya. Aku yang terbiasa hidup di selimuti kemunafikan. Bagiku sudah tidak ada bedanya lagi memburu kebahagiaan dengan cara yang sehat atau dengan tipu daya yang melenakan untuk mencapai apa yang diinginkan. Karena intinya tetap sama: mendapatkan kebahagiaan.
Ya, hanya itu yang aku inginkan untuk menyempurnakan kehidupanku ini. Tidak dapat dipungkiri, tidak ada jalan mudah untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Dan aku sudah mencobanya...
Tenang saja Tuhan,
Aku akan dapat menyelesaikan sisa hidupku dengan baik, walau tidak bisa sesempurna seperti orang-orang yang benar-benar beriman dengan tekad yang kuat dan semangat yang bergelora. Tapi setidak-tidaknya aku juga punya keinginan menjadi orang baik dalam arti yang sebenarnya.
Sekarang aku meminta restumu Tuhan, aku ingin menghabiskan paruh waktuku dengan jalan yang menurut pengetahuanku salah.
Semoga Engkau mengampuniku, Tuhan. Mengampuni hamba-Mu yang telah mencoreng dan mengabaikan perintah-Mu hanya karena ingin mencari kebahagiaan yang sangat semu, karena kebahagiaan yang aku cari adalah kebahagiaan duniawi. Aku tahu aku salah Tuhanku. Tapi, apakah kesalahanku mutlak kesalahanku? Untuk yang satu ini aku serahkan kepadamu Tuhan, karena Engkau adalah Kebenaran dan Keadilan. Aku tidak akan memberontak apapun keputusanmu terhadap jalanku.
Apa yang akan aku lakukan setelah malam ini? Biarlah menjadi misteri bagi sekelilingku (dan yang pasti bukan misteri bagimu – kerena Engkau Maha Mengetahui).
Semoga aku akan cepat tersadar, Semoga aku mendapatkan apa yang aku inginkan, dan semoga ini cepat berlalu...
2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment