Harusnya kamu tidak perlu berlebihan dalam menyandarkan lelahnya hidupmu di pundak kehidupanku, karena hal itu hanya akan menyulitkan perasaan kita berdua. Bukan, bukan aku tidak menginginkan dekat denganmu. Tapi keakraban kita ternyata menanam satu bibit bahaya yang pada akhirnya nanti akan tumbuh dan berkembang menjadi satu ancaman yang akan membahayakan kedekatan kita sebagai seorang teman.
Sampai akhir bulan yang lalu aku masih sangat nyaman saat kamu datang menghampiriku. Ya, kamu yang selalu saja meneleponku di saat langit di selimuti hitam yang membawa keremangan dan kadang membawa perasaan gamang. Meminta sedikit waktuku, bahkan meminta malamku untuk menemanimu menghabiskan malam bersamamu. "Temani aku malam ini, aku ingin melanjutkan menghitung bintang-bintang yang kemarin terputus karena terhalang oleh mentari pagi yang tiba-tiba datang dari ufuk timur", katamu kepadaku dengan lirih dan bujuk rayu yang akhirnya membuatku hanya bisa mengangguk menyetujuinya.
Lalu kita menghabiskan malam-malam itu. Kadang di pekarangan rumahmu, kadang berputar-putar mengelilingi jalan raya jakarta yang lengang di malam hari, kadang duduk di bahu bundaran HI sambil memainkan air, juga sesekali di pinggir pantai ancol. Tiba saat yang tenang saat kita duduk berdua, kamu mulai merangkul tanganku, menyandarkan kepalamu di bahuku, dan kau bercerita tentang luka dan dia...
Dan terjadi pengulangan selalu terjadi di hari-hari berikutnya, begitupun sampai kemarin malam. Diatas loteng rumahmu disaat bulan terlihat sangat indah dengan bentuk sabit tipis yang sedikit menyilaukan. Malam yang akhirnya membuat kita sama-sama beradu pandang sangat lama dan suasana yang membuat semuanya terjadi begitu saja tanpa kita sadari bahwa kejadian itu tidak seharusnya terjadi di antara kita, berdua.
...
Kamu seharusnya dapat mengerti, bahwa dia, kekasihmu yang sering kamu ceritakan kepadaku itu adalah teman baikku dan aku tidak dapat mengkhianatinya, maaf...
Aku serba-salah...