Masa-masa itu sudah lewat dan berlalu, dan tidak akan mungkin menjadi abadi
– kecuali dalam mimpi.
Secara perlahan angan-angan itu memang harus menghilang dalam kehidupan ini.
Menghilang untuk selama-lamanya. Tegasku berkata: Khayalan ini terlalu menyesakkan untuk direalisasikan di alam nyata. Jadi, biarkan semua ini...
Sudah menjadi fitrah manusia dalam menjalani kehidupan ini, dimana kebahagiaan dan kehancuran punya peranannya dan saat-saat yang selalu dilalui olehnya.
Kita berada di dalam bumi manusia, berarti kita harus selalu siap untuk di singgahi, baik dalam tempo yang sangat singkat atau menetap dan menjadi bagian dalam nadi dan darah kita.
Kebahagiaan seorang manusia dilambangkan dengan cinta dan kasih sayang beserta prilaku-prilaku manisnya.
Selagi cinta itu tumbuh dan merekah, sudah tentu pasti senyuman akan selalu terkembang bersama waktu yang dilalui.
Ada kedamaian dan langkah ceria dalam hari-hari yang di imajinasikan dengan penuh warna-warna, mulai dari kuning ceria, merah bergelora, biru kesenangan dan sebagainya...
Saat semuanya berbalik dan melawan arah, kehancuran pun menggantikan segalanya, menutupi dengan hitamnya.
Menguburkan angan-angan di dalam tanah penderitaan yang selalu siap mendekapnya dengan pedih dan dengan nestapa.
Memang kehancuran selalu siap mengahantam semua mahluk pecinta, karena pada hakekatnya hitam selalu mendampingi putih.
Sampai kapanpun.
Tanpa kecuali.
Ada saatnya kebahagiaan dan kehancuran datang secara terpisah dan ada kalanya datang secara bersamaan.
Secara tiba-tiba atau secara perlahan-lahan, suka dan duka datang silih berganti, tawa dan airmata kadang hanya menjadi pelipur lara sementara.
Dan memang sementara, tidak lebih.
Kalau kita bisa menelaah dan menyikapi setiap kejadian-kejadian yang telah kita rasakan, mungkin kita akan menyetujui bahwa benar adanya kalau kita selalu tidak dapat menolak terhadap apa yang akan dan bahkan telah terjadi pada kita.
Bersembunyi pun tidak.
Yang pasti sering kita lakukan adalah berusaha menerimanya.
Terserah, dengan senyuman atau dengan darah didada.
Demi pengharapan sebuah kasih sayang atau demi kasih sayang itu sendiri.
Banyak yang menjadi terlena mengharap bintang dapat menyinari kekelamannya, padahal langit tengah hujan deras mendayu ratapan.
Dengan Luka, Tengah Mei 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment