Memang sungguh tidak Aku sangka, waktu begitu berperan membunuh setiap gerakan kita. Waktu sangat menentukan tindakan kita. Coba seandainya tidak ada waktu yang berputar dan membatasi. Apa jadinya ya? Bisa melakukan segala kesenangan kita tanpa harus dikejar-kejar dengan kesenangan yang lain. Bisa berlari kesana- kemari dengan bebas tanpa harus di buntuti dengan kesibukan yang lain. Bisa terus berduaan terus dengan kamu. Mmm…
Itu yang selalu Aku sesali. Mengapa setiap Aku bersama kamu, waktu terasa begitu cepat berjalan, bahkan berlari. Sungguh-sungguh cepat. Padahal Aku ingin bisa bersama kamu dengan waktu yang agak lama. Biar Aku puas. Biar Aku bosan. Padahal Aku baru saja menggenggam tanganmu, tapi dua jam telah berlalu tanpa bilang permisi. Baru saja Aku ingin mengecup keningmu, eh, senja telah berbenah ingin pulang ke ujung cakrawala. Tujuh patah kata yang terucap olehku di hargai oleh waktu selama tiga puluh menit per huruf. Sungguh gila. Begitu kejamnya waktu membatasiku. Mengganggu kesenanganku, mengusik kebahagiaanku. Padahal terang-terangan Aku tidak pernah menggangu dia walau hanya sebentar. Aku juga tidak membutuhkan dia, sungguh, Aku hanya membutuhkan kekasihku selalu ada di sampingku, sekali lagi tanpa waktu!
Terpaksa kini Aku mengkhayal tentang kebahagiaan semu. Walau sang waktu tetap saja membuntuti Aku secara langsung. Tapi Aku masa bodoh. Benar-benar masa bodoh. Habis Aku lelah bila harus terus mencaci maki waktu yang tidak ada habisnya mengganggu kesenanganku.
Aku berkhayal tentang suatu ruang yang Aku sendiri tidak begitu yakin apakah ruang itu sungguh ada di alam nyata atau tidak. Aku tidak perduli. Tapi Aku bisa sangat yakin kalau ruang itu memang sangat nyata dalam khayalanku. Ada sebuah padang luas, bahkan lebih luas dari lautan, lebih lebar dari padang sahara. Ditumbuhi dengan bunga-bunga yang bentuknya sangat indah, dan tidak tercantum termasuk jenis apa bunga itu dalam kamus jenis-jenis bunga yang ada di dunia manusia. Wanginya pun tidak bisa ada yang menandinginya, Aku tidak bisa menuliskannya dalam ceritaku ini. Dan Aku harap kamu dapat mengkhayalkannya sendiri bagaimana keharumannya itu. Yang pasti dan Aku jamin wanginya sangat menyejukkan jiwa ini. Tidak ada yang menandingi keharumannya, baik bunga mawar, melati, kenzo, atau parfum termahal yang dibuat oleh serbuk aneka bunga-bunga pilihan yang tersedia di bumi manusia. Aku menjamin ini sangat beda. Seakan-akan wanginya itu dapat masuk kedalam tubuh kita dan menyatu dengan darah dan hati kita.
Di padang bunga itu Aku didampingi oleh kamu, kekasihku, yang manis dan akan selalu terlihat manis dengan lesung yang selalu terkembang saat kamu tersenyum. Kita bercanda berkejar-kejaran, setelah merasa capai kita berbaring ditumpukan bunga-bunga terindah itu sambil bertengadah menatap awan yang berwarna merah jambu. Langit pun berwarna merah jambu dan tidak biru. Sambil berbaring Aku dengan kamu berbincang-bincang dengan suara kelembutan yang selalu terjaga. Aku dan kamu berbicara tentang cinta. Entah mengapa tidak pernah bosan Aku dengan kamu membicarakan tentang keindahan cinta kita berdua. Lalu kita tertidur lelap setelah sebelumnya kita berpelukan dan berciuman dengan bara cinta yang menggelora. Dan saat Aku bangun dari tidur yang sangat nyaman karena ranjang kita diselimuti oleh bunga-bungaan. Aku mendapati kamu yang sedang asyik menciumi kupingku sambil sesekali berbisik pelan, “Aku sayang Kamu...”
Kekasihku, bukankah sungguh indah khayalanku ini. coba bayangkan khayalanku ini kekasihku, seandainya tidak ada waktu yang menggerogoti saat kita bersama. Malahan Aku masih punya banyak impian tentang kita, yang pasti sesuatu yang indah. Tapi, mungkin di lain waktu Aku akan menceritakannya kepadamu kekasihku. Sekarang Aku masih ingin bermimpi tentang kita. Selamat malam!
September 2005
0 comments:
Post a Comment