Dan pada akhirnya,
Aku memang membutuhkan cinta.
Telah lama Aku kehilangan cinta, cinta yang memang selalu merajai kehidupan melalui kebahagiaannya.
Cukup lama Aku menepikkan cinta dan menganggapnya sebagai kekosongan dan ketersia-siaan.
Ternyata Aku kesepian tanpa cinta, ternyata Aku kehilangan sesuatu yang menjadi penggerak jiwa ini,
Dan kini Aku menyadarinya.
Semula Aku berfikir kalau Aku mampu menjalani hari-hari tanpa harus di dampingi dan di selimuti cinta.
Bisa bergerak bebas dan melakukan berbagai kesenangan yang tak terbatas oleh kehendak cinta
dan belenggu-belenggunya.
Tanpa cinta, Aku masih mampu merasakan hangatnya siraman metari, menikmati keindahan senja yang siap membakar cakrawala dengan merahnya,
menyusuri malam dalam damai bersama bintang-bintang.
Tapi Aku merasakan itu semua, sangat mempesona di dalam khayalanku. Karena tanpa cinta, keindahan alam nyata hanya akan menjadi khayal tanpa perwujudan.
Dan Aku, mimpi bersama khayalan-khayalanku.
Cintalah yang menjadi penyempurna alam semesta ini.
Dengan cinta, tidak akan Aku temui masa-masa dimana kesunyian siap menerkam padahal di luar,
malam bersenggama dengan purnama.
Tidak mungkin kesepian akan menikamku dari belakang dengan belati kepedihannya, sedangkan pelangi menyelimuti bumi setelah hujan membasahi kemarau.
Karena cinta ada dan memang di tugaskan dengan misi-misinya menaburkan wangi dan kedamaian di bumi
dan semesta ini.
Kesendirian memang pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan dan berujung sangat mengenaskan, itulah yang kini Aku rasakan sekarang ini.
Aku seperti seekor kelinci yang tersesat di tengah padang pasir tanpa perbekalan apapun, berlarian kesana-kemari tanpa hasil, yang ada hanya padang-padang berpasir yang tidak ada batasnya. Siang Aku kepanasan dan malam Aku menjadi beku. Kehausan dan kelaparan. Hingga sekarat…
Kegelapan-kegelapan di malam pekat memelukku dengan dingin dan dengan sengaja membuat Aku makin tersesat dan menjauh dari tujuan langkahku.
Aku menjadi manusia yang tidak memiliki cita-cita.
Aku terlalu munafik dan berbagai kesombongan menguasaiku.
Hingga Aku menjadi hitam tanpa cinta.
Aku terlalu meremehkan cinta, sebuah kekuatan besar yang seharusnya Aku miliki juga karena kedahsyatannya yang mampu mencabik-cabik dan memporak-porandakan rasa sepi dan rasa asing bagi diri sendiri.
Harusnya Aku juga memiliki cinta, agar Aku bisa mengartikan sebuah senyuman adalah manis bukan sinis,
Sapaan adalah kepedulian bukannya basa-basi, dan cinta adalah anugrah tak ternilai bukannya bencana.
Mungkin karena Aku tidak mampu membaca dunia cinta Aku menjadi buta terhadap prilaku manusia pecinta. Mungkin. Karena saat kata cinta terdengar olehku, besitan hatiku langsung tertuju pada kemunafikan-kemunafikan boneka bernyawa yang memainkan kegombalan-kegombalannya. Boneka yang haus akan puja dan puji, manja dan takut dengan rasa kehilangan. Cinta yang menjadi topeng untuk dapat saling menguasai dan menundukkan, otoriter, posesif…
Para pecinta adalah segerombolan pesakitan-pesakitan yang siap di buang ke dalam lembah jahannam setelah mereka tidak berdaya oleh permainan cinta yang dimainkannya sendiri.
Saat itu, begitu dengkinya Aku terhadap cinta.
Sampai Aku tidak menyisakan celah untuk tidak mencacinya, muak dan akhirnya muntah.
Terus-menerus Aku menghujamkan kebencianku pada cinta. Kini Aku tidak berdaya. Aku kalah.
Aku tidak bisa membunuh cinta,
bahkan melukainya pun Aku tidak mampu.
Aku lelah. Aku mengalah.
Kekalahanku dalam mencoba membunuh cinta dalam hidupku telah meyadarkanku bahwa sampai kapan pun
cinta akan selalu ada dan tidak akan pernah mati.
Membunuh cinta berarti membunuh kehidupan ini
dan semua isinya termasuk manusia.
Membunuh cinta berarti membunuh diri sendiri.
Aku terima keadaanku, bahwa kini Aku (juga) membutuhkan bahan bakar kehidupan agar Aku bisa menuju ke kebahagiaan.
Aku butuh penyemangat untuk membangkitkan kelesuan ini. Sudah tidak ada alasan lagi bagi diriku untuk tidak, atau berpura-pura tidak membutuhkan cinta.
Karena semua sudah jelas bahwa Aku tidak berdaya
menjalani kehidupan ini tanpa percikan cinta.
Maafkan Aku cinta,
yang telah memandangmu dengan kebutaanku,
Mendengarkan senandungmu dengan ketulianku.
Aku harap kamu tidak menjauh dariku, cinta.
Karena Aku membutuhkanmu. Sangat butuh…
Aku butuh cinta.
Dan Aku mengakuinya.
Juli – Agustus 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment