Showing posts with label Si Denok. Show all posts
Showing posts with label Si Denok. Show all posts

Si Denok | Cerpen: Danarto

0



Suara nyanyian rame-rame itu..., Bung Karno siapa yang punya..., semakin mendekati pintu kamar tidur Presiden Soekarno di Istana Merdeka. Udara panas bulan Juni yang penuh kumandang revolusioner, ditingkah riang gembira, dan diakhiri dengan romantisme, memantapkan 6 Juni wajib dimeriahkan.


Meskipun orang Jawa tidak pernah mengadakan selamatan pada hari kelahirannya, namun agaknya sayang jika hari ulang tahun Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi, dilewatkan begitu saja tanpa kue dengan lilin-lilin di atasnya yang harus diembus. Kepala rumahtangga istana membawa kue itu dan Bu Hartini mengetuk pintu kamar tidur. Para pagar ayu, yang terdiri dari sekitar tiga puluh orang dara ayu melantunkan suara nyanyian rame-rame itu semakin menanjak, Bung Karno siapa yang punya. Yang punya kita semua....


Dengan ogah-ogahan bangun dari ranjang, Bung Karno berjalan berjingkat-jingkat karena lantai penuh buku yang bertebaran, menuju pintu. Begitu pintu dibuka, Bu Hartini menghambur memeluk Bung Karno dan menciumnya. Sesaat kedua insan ini berpagut mesra, bagai angsa berpagut di telaga. Suara nyanyian para pagar ayu semakin menderu. Lalu bertepuk tangan meriah sekali.


''Terimakasih. Terimakasih,'' desir Bung Karno sambil menggandeng tangan Bu Hartini dan membimbingnya.


Di depan pintu kamar tidur itu, pelayan menyodorkan meja dan kue ulang tahun diletakkan di atasnya. Dengan lembut Bung Karno meniup lilin-lilin itu, membelah kuenya dan memberikannya kepada Bu Hartini.


Semuanya menyanyi, semuanya makan kue, semuanya berbahagia.

Apa pun namanya, indah julukannya. Apa pun bentuknya, indah penampilannya. Apa pun kegiatannya, indah karyanya.


Bung Karno dan Bu Hartini nampak berbahagia. Lihatlah tatapan mata mereka yang hadir, para pegawai istana, para pengawal, para pagar ayu, para tamu, begitu sayu, begitu mengagumi Bung Karno. Semua yang hadir agaknya mencoba meraih kebahagiaan seperti kebahagiaan yang telah dimiliki Bung Karno dan Bu Hartini. Biar sedikit, kebahagiaan pemimpin besar itu tepercik ke arah para pengagum dan pengabdi yang berdiri mengelilinginya. Satu-persatu mereka menyalami Bung Karno dan menciumi tangannya. Satu dua orang tamu wanita meminta Bung Karno mencium keningnya. Akhirnya semua berpotret-potretan dengan Bung Karno dan Bu Hartini, di teras maupun di taman belakang.


Di antara para tamu pagi itu, terdapat sejumlah pemuda revolusioner yang akan memimpin Konferensi Pemuda Revolusioner. Para pemuda itu, sekitar lima puluh orang, datang dari berbagai pelosok Tanah Air. Mewakili daerah masing-masing, para pemuda itu mengemban suatu misi revolusi, yang menurut wejangan Bung Karno, revolusi belum selesai. Di Ibukota kemudian digalang seluruh kekuatan pemuda dari seluruh organisasi pemuda di bawah partai masing-masing, menyambut konferensi itu. Para pemuda yang bertamu di istana itu meminta Bung Karno memberi wejangan di hadapan ribuan pemuda dan pemudi di Istora Senayan, sebelum Konferensi Pemuda Revolusioner berlangsung.


Bung Karno adalah Pemimpin Besar Revolusi yang lapang dada. Mengabulkan setiap permintaan, asal permintaan itu revolusioner sifatnya. Tampak tak pernah lelah, Bung Karno setiap saat mengekspresikan keinginannya. Pemimpin yang memiliki kemampuan multidimensi ini, menguasai masalah politik, ekonomi, sosial. Bung Karno juga menguasai masalah-masalah kesenian. Di bidang kesenian inilah Bung Karno begitu unggul dibanding pemimpin-pemimpin dunia lainnya. Presiden Kennedy dari Amerika, PM Khruschov dari Uni Soviet, maupun Presiden de Gaulle dari Prancis,  misalnya, berada jauh dari segala gegap gempita kesenian yang menjadi selera dan koleksi Bung Karno. Koleksi seni rupa Bung Karno, lukisan dan patung, mencapai 2000 buah. Karya-karya itu di antaranya terdiri dari 47 buah lukisan wanita telanjang dan 38 buah patung perempuan dan lelaki telanjang. Karya-karya inilah yang menjadi spirit berkesenian Bung Karno.


Makan siang hari itu di Istana Merdeka tampak lezat di lidah para pemuda dan pemudi revolusioner. Mereka mondar-mandir untuk nambah, rasanya berulang-ulang tidak juga kenyang. Mereka agaknya baru tahu bahwa ada daging-daging panggang segede itu di istana. Juga masakan yang beraneka macam tentu merupakan sesuatu yang baru bagi lidah yang harus dibiasakan dengan masakan sederhana, sebagai rasa 'sama rasa sama rata' dengan rakyat jelata yang diperjuangkannya. Mereka harus memiliki kedisiplinan revolusioner. Jika tidak, tidak ada artinya mereka menyandang julukan pemuda revolusioner. Mereka menenteng piring dengan penuh makanan, menikmatinya sambil berdiri di dalam, di teras, maupun lesehan di taman belakang.


Tanah Air di zaman Bung Karno adalah Nusantara yang gegap-gempita. Politik adalah panglima. Segalanya tersisih, kecuali politik. Semua mendukung Bung Karno. Sebagian besar cendekiawan, ulama, dan pengusaha, berdiri di belakang Bung Karno yang ditopang oleh kekuatan politik, ekonomi, sosial, dan kesenian. Banyak yang tidak setuju bahkan menentang Bung Karno, namun mereka kalah suara maupun kalah kekuatan.


Perwakilan pemuda revolusioner dari berbagai daerah yang mendapat kesempatan bertemu Bung Karno memperoleh bekal sebelum konferensi esoknya berlangsung. Sambil ngopi dan menikmati buah-buahan, di teras belakang istana mereka ngobrol dengan Bung Karno dengan santai.


''Mohon maaf, Yang Mulia,'' cetus seorang pemuda.


''Mohon maaf juga saya, Yang Mulia,'' jawab Bung Karno.


Beberapa pemuda pemudi tertawa.


''Bapak Presiden, Pemimpin Besar Revolusi,'' kata pemuda tadi dengan tersipu.


''Sudahlah,'' tukas Bung Karno, ''Jangan banyak basa-basi. Panggil aku Bung Karno.''


''Oke, Bung Karno,'' sambung pemuda tadi.


''Bagus. Kamu bisa bilang oke, persis pemuda Amerika,'' sambung Bung Karno.


Beberapa pemuda pemudi tertawa lagi.


''Kami sebenarnya kaget. Melihat lukisan dan patung koleksi Bung di istana ini, membikin hati kami penuh tanda tanya.''


''Mengapa?''


''Begini, Bung. Banyak sekali lukisan dan patung wanita telanjang, maksudnya apa?''


''Kamu sudah menikmati karya-karya itu, kamu harus berani menafsir.''


''Kami....''


''Takut kalau aku marah? Apa pemuda revolusioner punya rasa takut?''


''Baiklah, Bung. Kami tidak mengerti selera lukisan dan patung Bung.''


''Oke, tak ada dialog. Kalau kalian tidak mengerti, apa pun usahaku untuk menerangkannya, akan sia-sia.''


''Selera lukisan dan patung Bung, bertentangan dengan revolusi kita.''


''Apanya yang bertentangan?''


''Selera Bung ternyata borjuis.''


''Buktikan.''


''Lukisan dan patung wanita telanjang hanya menjadi selera kaum reaksioner dan kontra revolusi yang semuanya itu kaum borjuis. Karya seni rupa demikian, meninabobokkan revolusi, dus bikin kita melempen.''


''Buktinya, aku tidak melempem. Bertahun-tahun aku bertahan sebagai pemimpin revolusioner. Malah lebih garang daripada kalian.''


''Bung tidak melempem, tapi para menteri melempem.''


''Jangan ngawur, kamu! Buktikan!''


''Menurut pengamatan kami, para menteri cuma jadi yesman.''


''Lebih ngawur lagi!''


''Bung kura-kura di dalam perahu.''


''Kamu, he, kalian, sudah gaharu cendana pula.''


Lagi-lagi beberapa pemuda dan pemudi tertawa.


Sambung Bung Karno, ''Betul-betul aku sudah pikun jika memang benar para menteri adalah para yesmen. Aku selalu minta pendapat Perdana Menteri dan Perdana Menteri memberi pendapatnya dan aku laksanakan pendapatnya itu. Apa itu namanya Perdana Menteri yesman?!''


''Bung hanya membela diri.''


''Menteri Pertanian lebih pandai daripada aku soal-soal pertanian, kok aku menyetirnya, itu kan aku jadi keblinger.''


''Bung menekan mereka dan mereka menjadi yesman.''


''Aku menekan kabinetku dengan lukisan dan patung telanjang? Ha ha ha, ini pendapat yang sungguh-sungguh istimewa. Para menteri menikmati lukisan dan patungku kalau mereka sedang berada di istana. Selebihnya mereka di rumah sibuk oleh hobinya masing-masing.''


''Koleksi seni rupa Bung bertentangan dengan nilai-nilai ketimuran kita yang luhur dan agung,'' sela seorang pemudi.


''Lukisan dan patung wanita telanjang adalah lambang keindahan. Jika nilai-nilai ketimuran kita bukan keindahan, lebih baik aku tinggalkan.''


''Lebih dari buruk, koleksi telanjang Bung bertentangan dengan moral dan agama.''


''Kalian semuanya ndeso. Kalian tidak becus menafsir kesenian tapi ngotot bicara kesenian. Apa yang kalian ketahui tentang perempuan telanjang? Bagaimana kalian bicara tentang wanita telanjang kalau kalian tidak pernah melihat wanita telanjang. Lukisan atau patung wanita telanjang tidak ada hubungannya dengan moral dan agama."


''Jangan marah, Bung.''


''Aku marah! Marah besar! Aku pikir para pemuda revolusioner bisa fasih bicara kesenian. Sontoloyo! Kalau kalian tidak paham kesenian, apa yang kalian pahami tentang wanita telanjang?!''


''Bung....''


''Tidak setiap ketelanjangan adalah amoral. Bahkan Menteri Agama dan para kiai, memahami koleksi seni rupa saya. First-lady kalian oke-oke saja ketika aku memajang lukisan wanita telanjang di kamar tidur. Tamu-tamu yang datang dari dusun yang paling terpencil di Tanah Air, biasa berpotret-potretan menyandar di patung Si Denok yang telanjang itu. Hakekat dari kesenian adalah keindahan. Para seniman mengejar keindahan, seperti para pemimpin mengejar keadilan bagi seluruh rakyat.


''Mengapa harus telanjang?''


''Mengapa tidak telanjang?''


''Kami tidak paham.''


''Kalian tidak bakal paham, sampai kalian mampu mereguk keindahan dari figur-figur telanjang. Aku pajang Si Denok karya Pastori dari Swis di taman halaman belakang karena sikapnya yang sedang berjongkok memberikan aksentuasi keindahan secara keseluruhan taman itu. Nah, kalian lihat, betapa keindahan itu bisa lahir dari berbagai unsur yang mendukung.''


''Patung laki-laki pemanah telanjang di depan istana....''


''Bagus. Patung itu karya Strobl dari Hongaria. Apa pendapatmu?'' tanya Bung Karno sambil menunjuk  seorang pemudi.


Pemudi itu cuma tersenyum sambil menunduk yang disambut tertawa oleh teman-temannya.
Bung Karno nampak puas memberi wejangan tentang kesenian.


''Aku taruh di depan istana, patung pemanah itu supaya setiap saat bisa diserap keindahan dan semangat perjuangannya oleh setiap orang yang lewat. Dalam hal ini, moral dan agama di satu pihak dan kesenian di seberang yang lain. Kalau dicampur urusannya, bisa kacau. Ada wanita yang bisa mengangkat senjata, ada wanita yang khusus memberikan keindahan. Keduanya memiliki kekuatan yang setara.''




Judul Buku: Kacapiring
Cerpenis: Danarto
Penerbit: Banana, Jakarta
Tahun: Cetakan I, Juni 2008
Jumlah cerpen: 18 judul
Tebal: 148 halaman