Ikan-ikan dari Laut Merah | Cerpen: Danarto
Pagi itu saya mengantar beberapa ekor ikan kepada Kanjeng Rasul Muhammad SAW. di rumahnya. Ikan-ikan yang saya jaring dari Laut Merah itu menjadi sumber penghidupan kami. Hidup bersama laut sebagai nelayan dengan keluarga ayah, ibu, dan dua saudara perempuan kami mencipta ikan-ikan seperti mainan yang dapat kita panggil sewaktu-waktu.
Ayah pernah bercerita bahwa para rasul dan para nabi boleh dikata tidak makan ikan, namun tidak mengurangi minat saya untuk mempersembahkan ikan yang barangkali saja satu saat dapat menerbitkan selera makan utusan Allah itu. Hidup sezaman dengan Kanjeng Rasul Muhammad rasanya seperti hidup di lingkungan yang tertata rapi dengan sendirinya. Dalam segala hal, kami umatnya, diayomi seperti bibit tanaman kecil yang dipeluk dalam dadanya dari badai gurun.
Beberapa ekor ikan yang saya persembahkan itu diterima sendiri oleh Kanjeng Rasul. Waktu itu hari telah beranjak siang, beliau sedang menjamu makan beberapa orang tamu. Kesibukannya sehari-hari tak mengurangi minatnya untuk menemui siapa saja yang ingin menemui beliau, termasuk anak nelayan yang belum lima belas tahun ini. Beliau menatap sejenak ikan-ikan itu sambil mengucapkan terimakasih dan menjinjingnya masuk ke rumah. Ketika saya beranjak pergi, Kanjeng Rasul menemui saya di belakang rumahnya dengan memberikan dua ekor kambing jantan dan betina. Ketika saya ragu-ragu untuk menerimanya, beliau mengatakan supaya saya memelihara kambing-kambing itu dengan baik.
Ayah dan ibu penuh tanda tanya memandangi kambing-kambing itu. Sedang kedua saudara perempuan saya senang sekali menerima binatang-binatang itu. "Kamu jangan mengganggu Kanjeng Rasul dengan ikan-ikanmu itu," kata ayah. "Sudahlah," kata ibu. "Kamu tak perlu mengirim ikan lagi kepada beliau." Sebaliknya kedua saudara perempuan saya mengatakan," Kenapa tidak? Kanjeng Rasul tentu senang menerima ikan-ikan itu yang jarang menjadi lauk makannya."
"Kalian sok tahu," tukas ibu. Di laut lepas, Laut Merah, ayah dan saya terapung dalam perahu yang tenang. Sedikit demi sedikit kami mengumpulkan ikan-ikan segar yang kami jaring. Binatang tangkapan itu rasanya dicurahkan dari laut ke dalam perahu kami. Begitu mudah. Apakah ini berkah Rasul? Tidak berapa lama, perahu kami penuh. Tumpukan ikan-ikan itu bagai harta karun terkena sinar matahari. Rasanya kami habis menguras dari dasar laut. Sebelum kembali ke darat, kami beristirahat sambil menikmati roti dengan lauk ikan bakar bekal kami. Ayah menenggak air dari kantung kulit kambing lalu tertidur dengan atap jerami yang melindungi dari terik matahari. Menjelang sore, ketika warna jingga menghiasi langit yang dipancarkan matahari, kami mendarat kembali.
Dalam tujuh hari, kami mengambil satu hari untuk beristirahat dari melaut. Ini kesempatan yang baik buat bermain dengan kambing pemberian Kanjeng Rasul. Kedua saudara perempuan saya cukup senang menggembalakan kambing-kambing itu di padang rumput di dekat oase. "Apa kamu senang bermain di sini?" katanya pada seekor di antaranya. "Rumputnya cukup lezat, kan?" kata yang seorang pada seekor yang lain. Keduanya memperoleh kegembiraan seperti mendapatkan hadiah mainan.
Di tepi oase yang ramai dikunjungi kafilah dari berbagai kawasan itu, juga dari negeri-negeri jauh, saya jatuh teridur dibuai angin sejuk pegunungan. Saya bermimpi. Saya bertemu Kanjeng Rasul di tepi pantai Laut Merah. Beliau mencomot rembulan dan mencelupkannya di Laut Merah seketika air laut itu bergelombang.
Saya terbangun karena pundak saya diendus seekor kambing mainan kedua saudara perempuan saya itu. Keduanya tertawa melihat saya yang kaget bangun. "Rupanya kambing itu sudah mulai ramah denganmu," kata seorang di antaranya. "Bukan begitu," kata adiknya."Kambing itu mengendus semak yang teronggok dengan dengkur yang aneh." Keduanya tertawa sambil menghalau kambing itu dari sisi saya.
Ketika saya berwudu untuk salat ashar dengan air oase itu, seseorang menghampiri saya dalam sosok yang membayang dalam air oase. Saya menoleh ke belakang namun tidak ada seorang pun. Saya salat berjamaah dengan sejumlah orang tua yang datang dari negeri jauh, sosok yang membayang itu rasanya ikut bermakmum di belakang saya. Begitu selesai salat, saya cepat-cepat menoleh ke belakang namun tak seorang pun tampak. Angin sejuk berembus. Matahari boleh jadi mau memberi tahu siapa itu sosok yang saya rasakan kehadirannya itu. Tapi entahlah. Dari jauh pada udara tak terjangkau, bergetar fatamorgana, mendendangkan air yang tak tersentuh. Kedua saudara perempuan saya berenang di dalam lautan pasir, meraba-raba batas udara.
Di rumah, kedua adik perempuan saya bercerita kepada ayah dan ibu dengan ramai tentang kambing-kambing yang digembalakannya. Binatang itu telah menjadi bagian keluarga kami yang penting. Ketika ibu bertanya, apa pengalaman saya bergaul dengan rombongan kafilah itu yang beristirahat di oase itu, saya ceritakan bahwa mereka walau tampak tua-tua namun kokoh dalam mengarungi padang pasir. Ketika saya tanyakan, apakah saya boleh mengembara bersama kafilah itu, satu saat nanti, ayah bilang boleh-boleh saja. Namun seorang nelayan adalah tetap seorang nelayan. Ia tak pergi jauh dari laut.
Kanjeng Rasul Muhammad SAW boleh dikata tak mengunjungi laut. Atau tidak beristirahat di tepi pantai. Beliau sibuk melayani umat dan harus beredar di antara umat di darat yang jauh dari laut. Beliau malah sering keluar masuk pasar untuk berbicara dan memberi hikmat kepada siapa pun yang beliau temui. Saya sering mengikuti beliau berdakwah di antara umat yang berbondong-bondong. Saya mendengarkan beliau berbicara kepada khalayak yang duduk atau berdiri. Saya sering bersama ayah, ibu, dan adik-adik, mengikuti beliau berdakwah ke mana saja. Sampai jauh dari rumah kami. Jika lelah, kami beristirahat dan menikmati bekal yang kami bawa dengan lauk ikan bakar. Ada satu hikmat yang saya pegang dari beliau bahwa seorang anak wajib berbakti kepada ayah dan ibunya.
Dalam keadaan Laut Merah yang bergolak, ayah tertidur pulas karena udara panas dan kelelahan, melompatlah seekor ikan besar ke dalam perahu kami. Saya kaget banget. Panjangnya dua lengan ayah yang terentang dan beratnya seberat tubuh saya, ikan itu berkata-kata kepada saya.
"Persembahkan saya kepada Kanjeng Rasul," kata ikan itu. "Bagaimana mungkin?" jawab saya.
"Kamu pernah mempersembahkan beberapa ikan kecil kepada beliau."
"Kok kamu tahu."
"Persembahkan saya."
"Bagaimana mungkin saya mampu membopongmu. Kamu begitu berat dan jarak rumah saya dengan rumah Kanjeng Rasul cukup jauh."
"Ayolah. Tolonglah saya."
"Untuk apa kamu kepingin banget dipersembahkan kepada Kanjeng Rasul?"
"Supaya Kanjeng Rasul berkenan menyentuh tubuh saya."
"Untuk apa sentuhan tangan Kanjeng Rasul?"
"Supaya saya bisa masuk surga."
"Seandainya kamu seberat biji korma."
"Keledai bisa memanggul tubuhku."
"Tidak ada keledai yang gratis."
"Carilah saudagar kaya yang dermawan yang mau meminjamkan keledainya."
"Banyak saudagar kaya yang dermawan namun tak punya keledai."
"Tanyalah keledai secara langsung dan mintai tolong dia."
"Banyak keledai yang bisa dimintai tolong tapi mereka takut kepada tuannya."
"Carilah keledai yang ringan hati yang tak takut kepada tuannya."
"Banyak keledai yang ringan hati namun tak mau memanggul ikan. Alasannya: amis."
"Carilah penjual parfum yang dermawan yang mau menyemprotkan minyak wanginya ke tubuh ikan."
Dengan berkah Allah, akhirnya, setelah beberapa hari berburu ke beberapa penjuru padang, saya temukan seekor keledai liar. Ia mau memanggul ikan gede yang berat banget itu dan bau amis. Alasan keledai itu adalah ia kepingin juga tubuhnya disentuh Kanjeng Rasul. Saya sengaja bertolak dari rumah malam hari. Supaya tak diketahui ayah, ibu, dan adik-adik, saya pamit mau ke rumah teman.
Dengan sekuat tenaga, ikan gede itu saya gusur ke punggung keledai yang sengaja berbaring di tanah. Ikan itu lalu saya ikat ke tubuh keledai. Pelan dan tidak goyah, saya tuntun keledai itu berjalan. Melewati kawasan yang gelap dan terjal, keledai itu tersandung, namun, alhamdulillah, tidak jatuh. Keledai dan ikan itu tidak mengeluh. Rasanya keduanya akan menemui peristiwa yang paling menyenangkan dalam hidup.
Di rumahnya, Kanjeng Rasul sudah menunggu lama kami di pekarangan. Beliau menerima persembahan ikan gede itu. Mula-mula ikan itu dielus-elus. Air mata ikan itu berderai dan mulutnya tak mampu berkata-kata. Beliau membopong ikan itu ke dalam rumahnya. Lalu beliau keluar rumah lagi. Beliau lalu mengelus-elus keledai itu dan bercucuranlah air mata hewan berkaki empat itu. Begitu dielus-elus tubuhnya oleh Kanjeng Rasul, keledai itu lalu mati.
Saya pulang membawa hadiah lima ekor sapi. Hadiah yang besar. Saya mencium tangan Kanjeng Rasul dan saya minta beliau mengelus-elus kepala saya. Komplet rasanya warna-warni peristiwa yang saya alami hari itu. Pagi harinya, saya kena marah ayah dan ibu. Namun adik-adik membela saya.
Tangerang, 1 Juni 2006
Judul Cerpen : Ikan-ikan dari Laut Merah
Pengarang : Danarto
Terbit awal :
Judul Buku : Kacapiring
0 comments:
Post a Comment