DUNIA SEPERTI ADANYA DUNIAkeberadaan segala sesuatu ditentukan oleh segala sesuatu dari dirinya sendiri; bahwa pohon itu terdiri dari batang, daun, dahan, ranting, dan keseluruhannya membuat pohon menjadi pohon. Batang bisa dilihat, daun bisa didengar, akar bisa diraba, dan ranting bisa disentuh. Pohon memang ada. Dunia itu ada. Tidak ada lagi yang bisa membantahnya.
Danau ada karena ada danau yang permukaannya tak bererak seperti cermin dan hanya bergoyang ketika seekor rusa minum ditepiannya. Danau ada seperti adanya danau itu. Dunia ada seperti adanya dunia itu, dengan atau tanpa adanya manusia.
Dunia seperti adanya dunia seperti manusia mengurai buah kelapa yang memisahkan serabut dari tempurungnya. Memisahkan tempurung dari dagingnya, dan daging dari airnya. Air kelapa yang kesegarannya meneduhkan perasaan dipecahkan lagi menjadi istilah-istilah yang memisahkan bagian yang satu dengan bagian yang lain.
Sehingga segala sesuatu yang tercatat mulai dari umur pohon kelapa dan berapa buah kelapa yang akan dihasilkan oleh pohon itu bisa menghasilkan kesimpulan menyeluruh yang tepat.
DUNAI SEPERTI DIPANDANG MANUSIAKeberadaan segala sesuatu ditentukan oleh pemandangan manusia; bahwa manusia mengatakan langit itu biru ketika ia melihanya biru, bahwa langit itu kemerah-merahan ketika ia melihatnya kemerah-merahan.
Kemudian ia akan tau bahwa tanpa udara yang mereka hirup dibawah atap langit, ternyata langit tidak berwarna, bahkan kosong dan hampa. Kenyataan ini mereka ketahui karena langit diselidiki sampai keluar angkasa. Adanya dunia seperti adanya dunia ditentukan oleh pandangan manusia.
Dunia seperti dipandang manusia memeberikan penyadaran bahwa seluruh pencapaian bagian pertama hanya berlaku dalam sudut pandang manusia, artinya tanpa manusia yang berkesadaran, dunia ini tidak mungkin ada.
Tanpa pandangan manusia tidak ada pohon kelapa, tidak ada nyiur melambai di pantai yang sunyi, karena kesunyian hanya bisa dihadirkan kedalam kesadaran oleh manusia.
DUNIA YANG TIDAK ADADunia ini tidak pernah tampil seutuhnya dengan cara yang sama bagi setiap orang. Sehingga, yang tersisa dari kemungkinan mengetahui adanya dunia adalah dengan memeriksa ketepatan dari cara-cara dunia mengada. Dunia tidak ada, yang ada hanyalah cara-cara tampilnya dunia kepada manusia. Jadi manusia hanya berurusan dengan gambaran-gambaran mengenai dunia dan bukan dunia itu sendiri.
Dunia ya ng tidak ada menyatakan sebagai kemustahilan besar, karena manusia pada dasarnya berada di dalam dunia yang digambarkannya.
Angka, huruf, dan bahasa itu hanyalah penggambaran dunia dan bukan dunia itu sendiri, maka sebetulnya dunia yang di fahami manusia itu tidak ada.
MENGADAKAN DUNIAManusia selalu memandang masa depan sebagai keberadaan penting dalam hidupnya, maka adalah menjadi tugas manusia agar kehidupan ini mempunyai makna dengan cara yang tidak bisa lain adalah membuat dunia ini kembali ada.
Dengan mengadakan kembali dunia ini melalui sudut pandang yang menilai kembali dunia melalui sudut pandang yang menilai segala sesuatu dari gunanya.
Kalau tidak berguna, tidak ada dunia. Apa yang benar dan apa yang baik tidak di persoalkan, berguna atau tidak berguna itulah soalnya. Yang baik dan benar adalah yang beguna.
KITAB KEHENINGANKekosongan yang harus dibaca. Semesta wajib di pahami.
- Seno Gumira Ajidarma
0 comments:
Post a Comment