Showing posts with label Intan Paramadhitha. Show all posts
Showing posts with label Intan Paramadhitha. Show all posts

Vampir | Cerpen: Intan Paramaditha

0

 Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku.

Kami datang dari tempat yang sama, sempit, gelap, basah, merah. Tapi ia tak menginginkanku karena ia kira aku menyusu ibu serigala.

Sebenarnya dulu aku tak pernah bercita-cita menjadi sekretaris. Jika ditanya apa cita-citaku semasa kecil, aku selalu mengatakan ingin jadi dokter, seperti juga ribuan anak kecil lainnya. Tapi saat aku tumbuh dewasa, ibuku mengamati sifatku yang rajin dan serba teratur. Aku suka membuat daftar pelajaran, anggaran uang jajan, atau daftar belanja. Aku tergila-gila pada pengelompokan. Di kamarku ada kotak-kotak khusus untuk kaset dengan aliran musik berbeda. Aku bahkan tahu baju apa yang akan kupakai hari Jumat dua minggu mendatang. Kata Ibu, “Kau lebih cocok jadi sekretaris ketimbang dokter.”

Selepas sekolah menengah aku pun masuk Akademi Sekretaris. Separuh alasanku adalah ingin memaksimalkan potensiku, separuhnya lagi adalah karena untuk menjadi dokter aku harus menyukai biologi, sedangkan satu-satunya yang kusukai dari pelajaran itu adalah klasifikasi tumbuhan dan binatang. Lagi-lagi pengelompokan dan keteraturan. Pada akhirnya kusadari pilihanku belajar di Akademi Sekretaris tidak salah karena aku lulus dengan nilai-nilai gemilang.

Aku hidup di gua-gua pekat malam, terselimuti kabut abu-abu, tak kenal pagi dan embun. Aku tak berani menantang cahaya karena aku tak seperti kalian semua. Aku terobsesi merah. Merah yang tergenang menganak sungai beraroma ikan segar.

Aku haus darah.

Aku kupu-kupu hitam bersayap beludru, terbang ke dalam lorong-lorong dan terseret dengan pusaran malam. Ia tak tahu penderitaanku, eranganku, gairahku. Ia menutup semua jendela untuk mengusirku yang terseok kehausan.

Kini aku bekerja di sebuah perusahaan jasa konsultan. Aku selalu menyetrika jas kerja dan rokku licin-licin agar terlihat serasi dengan sejuknya lantai mahogani kantorku dan dindingnya yang bernuansa cokelat susu. Cokelat adalah warna klasik yang selalu terlihat elegan. Ingin terlihat lebih profesional? Pakailah cokelat atau hitam. Lucu, dulu kupikir warna gelap hanya untuk kekuatan jahat dan warna terang untuk kebaikan.

Kadang aku mencari tikus atau anjing atau apa saja. Aku terlalu lemah untuk membuka mata. Tak bisa bertahan, aku begitu haus. Ah, andai aku bisa menukar jiwaku dengan

Darah!

Jabatanku di sini adalah sekretaris manajer pemasaran. Meja kerjaku tertata rapi tepat di luar ruangan bosku. Namanya Irwan. Ia muda, tampan, kaya, cerdas. Tentu saja ada satu kelemahannya: beristri. Baginya ini kelemahan karena ia harus mati-matian menutupi hubungannya dengan beberapa perempuan (setidaknya begitu yang kudengar di hari pertamaku bekerja). Bagiku ini juga kelemahan karena aku harus berusaha menjaga jarak mengingat intensitas interaksiku setiap hari dengannya yang mungkin bisa menjerumuskan. Aku pernah mendengar tentang perilaku seks di dunia kerja, tapi aku tidak pernah berselera melanggar kode etik dan norma-norma.

Irwan terlahir dari keluarga kaya dan ini membuatku memaklumi sikapnya yang senang bermain-main dengan kekuasaan. Ia sering memberiku tugas di luar yang seharusnya, seperti memintaku membuat surat-surat permohonan untuk proyek sampingannya di luar kantor. Pernah pula aku keluar kantor hanya untuk membayar tagihan-tagihan kartu kreditnya. Aku tahu aku berhak protes, tapi untuk sementara ini aku memilih diam sambil mengevaluasi sejauh mana ia bersikap tidak profesional.

“Ada acara sesudah jam kantor?”

Aku mengangkat kepalaku. Hari itu Irwan memakai dasi merah yang menyembul dari balik jas hitam konservatifnya. Ada yang sangat salah dengan dasi itu. Mungkin warnanya yang kelewat terang, sungguh tidak cocok dengan atmosfer kerja yang penuh warna-warna dingin.

Merah berhawa panas. Merah kadang menggumpal lengket dan tersangkut seperti permen karet. Merah menuntut pengakuan, peng-aku-an, tak bisa menunda, tak bisa luruh di saluran pembuangan.

“Saras?”

Aku menggeleng.

“Kalau begitu temani saya minum kopi.”

Jika bekerja untuk seseorang, kita akan terbiasa dengan kalimat imperatif.

Aku pun berusaha menerka makna lain di balik minum kopi. Yang ia maksud tentunya berada di ruangan ber-AC sambil menikmati kopi tak berampas dalam cangkir, bukan minum segelas kopi tubruk di warung. Yang ia maksud tentunya berada di kelas tertentu, dengan tujuan tertentu, menjalin relasi atau networking mungkin. Menarik sekali untuk perkembangan karierku, tapi mari kutegaskan lagi kalau aku tidak tertarik memperdalam relasi dengan laki-laki beristri.

Munafik.

Apakah ada konsekuensi logis jika aku menolak?

Ia menginginkan lelaki itu, tapi tak mau jadi orang pertama yang disalahkan.

“Dirut minta laporan khusus yang harus selesai besok,” katanya. “Ini pekerjaan ekstra buat saya, jadi saya harap kamu bisa membantu.”

Irwan seperti membaca keraguanku dan mencoba menekankan bahwa ajakannya bersifat rasional dan profesional, bukan sensual ataupun seksual. Setelah menimbang-nimbang, kuputuskan untuk pergi bersamanya.

Ah! Ah! Aku saudara yang berbagi hangat denganmu di tempat merah sempit itu. Aku tahu di sekolah menengah kau membaca buku porno murahan tentang sekretaris yang masuk ke ruangan bosnya tanpa celana dalam. Kau perempuan murah rekah

Ayo marah! Tidakkah kau impikan semua kebinatangan di balik rokmu yang beradab?

Maka, pergilah kami ke sebuah kafe yang memutar musik jazz tahun 50-an. Bernaung cahaya redup, kami duduk di sofa beludru merah yang begitu besar sehingga aku merasa bisa tenggelam di dalamnya. Jika tak ada kopi, mungkin aku akan mengantuk. Mengapa Irwan memilih tempat seperti ini untuk membicarakan proyek kantor?

Rumah bordil—

Kupu-kupu seperti aku memang senang remang-remang, bayang-bayang, halusinasi. Rumah meriah di dalam hutan segala serigala. Kau tak akan tahu apa pun sebelum masuk ke dalam.

Kami berbincang selama dua jam, espresso berganti capuccino. Setengah jam ia membahas laporan khususnya. Ella Fitzgerald masih merayu dengan suara emasnya, tapi aku menyimak dan mencatat seperti layaknya sekretaris profesional. Lantas kudengar ia bertanya,

“Kamu masih tinggal dengan orangtuamu?”

Aku tertegun, lalu kukatakan aku tinggal sendirian. Orangtuaku berada di luar kota dan aku anak tunggal. Ia bercerita bahwa ia juga begitu.

Kemudian dimulailah ritual yang berbahaya itu: cerita klise tentang perkawinan yang tidak bahagia. Bahwa istrinya sibuk mengejar ambisinya sendiri, bahwa tak ada anak yang mengikat kedekatan mereka.

Aku harus mengakhiri semua ini. Ia tengah mencari mangsa.

Aku juga. Adakah yang rela menyerahkan jiwa?

“Aku harus kembali ke rumah,” aku memutuskan.

Hari belum terlalu malam, tapi Irwan ingin mengantarku pulang. Kukatakan tidak perlu, tapi ia memaksa.

Oke, sampai di luar pagar.

Laki-laki itu tahu kau tinggal sendirian.

Kau dan aku memang makhluk-makhluk kesepian. Aku si pengisap penyedot kehidupan yang sekarat karena merah sudah nyaris habis punah berhenti titik.

Ia bertanya padaku apakah ia bisa ke kamar mandi. Jadi, aku biarkan ia masuk.

Masuklah, masuklah ke dalam pagar wahai para pencuri. Mari berlompat-lompatan, jangan mengendap-endap. Lihat apa yang bisa kau cicipi di kebun buah. Aku ikut karena aku juga pencuri, pencuri hidup dan mati, dan ’kan kujadikan kau

hantu.

Lalu ia duduk di kursi rotan konvensionalku, minum segelas air putih. Dibukanya satu kancing kemejanya dan dilonggarkannya dasinya — dasi yang benar-benar salah.

Lihatlah leher laki-laki itu. Sukakah kau pada es krim vanila? Kecap kebekuannya dengan lidahmu dan ia akan lumer dalam mulut.

Aku mendengarnya memanggil namaku. Ia seperti bergumam, tapi aku menangkap kata-kata terakhirnya,

“Sebetulnya kita sudah saling tahu apa yang terjadi.”

Aku gemetar. Tiba-tiba kusadari ketakutan terbesarku terjadi. Aku pernah membayangkannya dan karena aku sangat profesional aku tahu aku harus mendorongnya dengan tegas, mengusirnya bila perlu.

Tapi aku merasa ia semakin mendekatkan tubuhnya padaku. Aku bisa mencium minyak wangi bercampur aroma rokok yang menempel di rambutnya yang tercukur rapi. Aku seperti—

Tersedot?

Di pucuk es krim ada ceri bulat mengilat. Buah menggoda, menantang bahaya. Akankah aku jatuh? Tapi aku begitu menginginkannya. Aku si pengisap penyedot kehidupan.

Lehernya begitu indah. Dan aku begitu haus

Darah.

Jam 6.30 pagi. Ponsel berbunyi.

“Halo, Saras?” suara wanita di ujung sana. “Jangan lupa nanti ingatkan bosmu untuk rapat dengan klien jam 11. Ini berarti semua materi presentasi harus sudah siap. Dia sudah memintamu menyiapkannya, ’kan?”

“Ia tidak pergi kerja hari ini.”

Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku.


Jakarta, Juni 2004

================

Intan Paramaditha adalah penulis dan dosen kajian Media dan Film di Macquarie University, Sydney. Ia meraih gelar Ph.D. (with distinction) dari New York University di tahun 2014.

Novelnya, Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu (Gramedia Pustaka Utama, 2017), diterjemahkan oleh Stephen J. Epstein ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Wandering (Harvill Secker/ Penguin Random House UK, 2020). Novel tersebut masuk nominasi The Stella Prize 2021 di Australia dan mendapat penghargaan Karya Fiksi Terbaik Tempo 2017, English PEN Translates Award, dan PEN/ Heim Translation Fund Grant dari PEN America. Karya-karya lainnya yang terbit dalam bahasa Inggris adalah Apple and Knife (Brow Books, Australia & Harvill Secker, Inggris, 2018), terjemahan Stephen J. Epstein, serta Deviant Disciples: Indonesian Women’s Poets (editor, 2020), bagian dari seri Translating Feminisms penerbit Tilted Axis Press, Inggris. Esainya, “On the Complicated Questions Around Writing About Travel,” terpilih dalam The Best American Travel Writing 2021.

Pemintal Kegelapan | Cerpen: Intan Paramaditha

1

Semasa kecilku Ibu selalu berkisah tentang hantu perempuan yang menghuni loteng rumah kami. Dulu aku ketakutan setengah mati sehingga kusembunyikan kepalaku di balik bantal bila malam tiba. Meski begitu, tidak ada yang lebih menggelitik fantasiku selain cerita misteri.

Aku selalu menganggap diriku detektif cilik dengan rasa ingin tahu berlebih. Malam hari yang kerap diwarnai bunyi-bunyian gaduh dari arah loteng mengundang jiwa penyelidikku. Sebenarnya bunyi itu hanyalah tikus yang berlari-larian, namun masa kecil membuka ruang imajinasi tak berujung. Aku berkhayal di sana ada harta karun tersembunyi dalam peti. Untuk membukanya kita harus terlebih dahulu melawan penjaganya, yakni seekor laba-laba raksasa yang membungkus tubuh korbannya dengan jaring sebelum menyantapnya. Ruangan itu begitu gelap, namun begitu menyalakan lilin kau akan melihat mayat-mayat manusia tergantung kaku.

Siang dan malam kucoba mengintip loteng rumahku, namun Ibu selalu menguncinya. Aku senantiasa berharap, saat kutempelkan telingaku di pintu loteng yang tertutup, aku akan mendengar teriakan seorang anak. Ia adalah putri perompak yang disekap musuh-musuh ayahnya. Jika anak itu kutemukan, ia akan menunjukkan padaku rahasia harta karun terbesar abad ini.

Rupanya daya khayalku yang terlalu tinggi membuatku tak bergairah melakukan apa pun selain memikirkan rahasia di balik pintu itu. Kalaupun kucoretkan krayon pada buku gambarku, yang kugambar adalah loteng kelam dengan harta karun bersinar-sinar di dalamnya. Di lain waktu, kugambar ular raksasa yang melingkar-lingkar dan siap menerkam mangsanya. Berbagai versi isi loteng itu telah kureka, sampai akhirnya ibuku bercerita tentang apa yang menurutnya benar ada di dalamnya.

Ia, rahasia terbesar loteng rumahku, adalah hantu perempuan berambut panjang terurai yang selalu duduk di depan alat pemintal. Wajahnya penuh guratan merah kecokelatan, seperti luka yang mengering setelah dicakar habis-habisan oleh macan. Bola matanya berwarna merah seperti kobaran api. Bila ia membuka mulutnya, kau akan melihat taring-taring yang panjang. Ia begitu khusyuk di depan pemintal itu karena ia tengah membuat selimut untuk kekasihnya. Ia telah jatuh cinta pada seorang laki-laki, manusia biasa yang suka berburu di tengah hutan.

Hantu itu mampu berubah wujud di siang hari, saat ia ingin berbaur dengan manusia. Ia bisa menjadi apa saja dari perempuan, laki-laki, anak kecil, sampai seorang tua renta. Tatkala melihat si pemburu, hantu perempuan itu mengubah wujudnya menjadi seorang gadis jelita. Lelaki itu terpesona. Mereka lantas bertemu di padang ilalang keemasan demi sekadar berbagi cerita. Lelaki itu tak tahu bahwa setiap kali si perempuan hadir, burung-burung beterbangan tak tentu arah; siput dan binatang-binatang kecil mulai gelisah. Dibandingkan manusia, indera binatang memang lebih terasah.

Suatu hari, lelaki itu pamit untuk pergi beberapa lama. Ia ingin menjelajahi hutan di seluruh pelosok negeri demi mencari singa berbulu emas. Singa itu, konon, merupakan harta tak ternilai yang menjadikan pemiliknya kaya raya. Hantu perempuan sedih tak terkira, tapi ia tahu dengan berat hati harus direlakannya sang kekasih. Sebelum si lelaki memulai petualangannya, mereka berjanji bertemu di hutan.

Sore itu cahaya matahari mirip neon yang meredup. Lelaki pemburu bersandar di bawah pohon bersama kekasihnya, bicara tentang mimpi-mimpi indah yang akan terwujud setelah pencarian singa berbulu emas itu berakhir. Mari jadi istriku dan hiduplah kita di tepi sungai. Rumah kita kecil, tapi setiap saat terdengar gemercik air dan derai tawa anak-anak. Si hantu perempuan begitu terbuai mendengarnya. Ia tidak menyadari bahwa malam mulai mengancam. Pohon-pohon kekar menghitam dipagut awan gelap. Anjing-anjing mulai melolong, menyadari adanya makhluk gaib yang menegakkan bulu kuduk. Dari peraduannya, bulan purnama merayap naik tanpa suara.

Hantu malang itu lupa kalau hanya di siang hari ia bisa berubah rupa. Malam telah menanggalkan topengnya, dan sinar bulan menyinari wajah telanjangnya. Laki-laki kekasihnya sekonyong-konyong berteriak. Perempuan cantik yang dikenalnya telah berubah menjadi makhluk buruk rupa yang begitu mengerikan. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan rasa takut laki-laki itu. Ia lari terbirit-birit meninggalkan hantu perempuan itu sendirian.

“Untunglah laki-laki itu berhasil menyelamatkan diri!” aku berseru sambil mendekap bantalku, takut bercampur lega.

“Kau belum tahu apa yang terjadi pada hantu perempuan,” sela ibuku.

“Pentingkah?”

“Hei! Dia tokoh utama kita!”

O, ya, ya, kuanggukkan kepalaku. Kita memang sering kehilangan fokus dengan meniadakan hal-hal yang kita anggap tak penting.

Kata ibuku, hantu perempuan itu terpukul sekali. Sebelum ia sempat mengungkapkan siapa dirinya, kekasihnya sudah lari menjauh. Sungguh-sungguh ia murka. Ia terbang dari rumah ke rumah, membuat gaduh, mengganggu ketenangan manusia. Bayi menangis kala merasakan kehadirannya dan para pemuka agama sibuk berkomat-kamit mengusirnya. Tetapi, suatu hari hantu itu sadar bahwa dengan merusak ia tetap tidak mampu mematikan rasa cintanya pada si pemburu. Ia ingat, kekasihnya tidak punya pakaian yang cukup selama perjalanan panjang itu. Tak ada selimut tebal yang akan melindunginya jika ia kedinginan di hutan. Hantu perempuan itu pun memilih sebuah tempat persembunyian yang gelap untuk membuat selimut bagi kekasihnya. Ya, di loteng rumah kami lah ia bekerja dengan alat pemintal selama beribu-ribu malam.

“Dan ia masih melakukannya sekarang?”

Pekerjaan itu, kata ibuku, tak pernah selesai. Karena si hantu perempuan tidak menggunakan benang untuk selimutnya. Ia memintal kegelapan.

Aku berhenti memikirkan si Pemintal Kegelapan ketika Ibu bercerai dengan Ayah. Sejak usiaku menginjak 13 tahun, aku tinggal berdua saja dengan Ibu. Ia masih bercerita, namun entah mengapa, ceritanya mulai terasa hambar. Perkiraanku, ibuku mulai bosan mendongeng. Matanya kosong. Ceritanya tidak berenergi. Tidak seperti ketika ayahku masih tinggal bersama kami, kini Ibu terlihat kelelahan karena sering pulang larut malam.

Ibuku berupaya membuat kehidupan kami tetap seperti semula. Ia tetap mengantarku sekolah, menyiapkan sarapan, meneleponku dari kantornya di siang hari, dan mencium pipiku sebelum tidur. Ia selalu bersikap manis, tapi seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, ia kehilangan greget. Ketika aku beranjak remaja, aku mulai jenuh dengan sepinya suasana rumah dan lebih suka pergi bersama teman-teman sekolahku. Frekuensi pertemuanku dengan Ibu pun semakin jarang, tapi ia tetap melakukan segalanya: mengantar sekolah, menyiapkan makanan, menelepon, mencium.

Ketika usiaku 16 tahun, Ibu mulai memiliki kekasih. Seorang laki-laki tinggi besar sering datang ke rumahku. Aku memanggilnya Om Ferry. Aku menyukainya karena ia selalu bercerita tentang petualangannya di luar negeri. Namun, beberapa bulan kemudian ada laki-laki lain. Om Riza. Setelah itu, laki-laki berbeda datang silih berganti hingga aku tidak bisa mengingat nama mereka semua. Seorang tetangga sempat bertanya saat aku menyiram bunga di pekarangan, “Yang mana yang akan jadi ayah barumu?” Terlalu banyak laki-laki yang singgah di rumah, dan ini menyebabkan timbulnya gosip-gosip yang memerahkan telinga.

“Sebetulnya apa kerja ibumu?” tanya Nina, anak tetangga di depan rumahku.

Aku mengangkat bahu. Ibuku membuat sarapan pagi dan mencium pipiku di malam hari. Haruskah aku tahu lebih banyak jika itu sudah cukup bagiku?

“Ibuku bilang ada yang disembunyikan ibumu,” kata Nina, setengah berbisik. “Apa ibumu benar-benar bisa menghidupimu hanya dengan bekerja di kantor?”

Gunjingan tetangga semakin ramai. Ibu dituduh memanfaatkan pacar-pacarnya dengan menguras saku mereka. Sebagian lagi meragukan kalau Ibu benar-benar berpacaran. Ada pula yang menyebar berita bahwa Ibu menggelapkan uang kantor. Inti dari semua tudingan itu adalah bahwa ibuku memiliki posisi yang membahayakan sebagai seorang janda. Semuanya berseliweran di kepalaku, namun tak satu hal pun yang berani kutanyakan pada Ibu.

Semakin bertambah usiaku, semakin kuyakin bahwa ibuku memang menyimpan sesuatu. Kusadari bahwa sejak lama ia sering bersikap aneh. Aku ingat pernah terbangun suatu malam ketika ayah dan ibuku bertengkar dan saling melempar kata-kata kasar yang tidak seharusnya terucap. Keesokan harinya, Ibu membuatkanku roti isi selai stroberi dan susu cokelat sambil bersenandung riang. Suaranya seindah kicau burung kenari.

Di hari Minggu, aku pernah mendengar Ibu memecahkan piring sambil berteriak di dapur. Menurut Ibu, kala mencuci, tangannya terlalu licin sehingga piring itu terlepas dari genggamannya. Menurutku tidak. Aku yakin ia sengaja memecahkannya. Tapi setelah itu Ibu langsung menutup kasus dengan mengajakku nonton bioskop.

Sesekali aku juga mendengar suara ganjil dari kamarnya. Suatu ketika, malam yang lengang dikejutkan oleh teriakan bercampur tangis penuh amarah. Aku keluar dari kamarku dan bergegas menghampiri kamar Ibu. Kuketuk kamarnya. Setelah sekian lama menunggu, barulah ia membuka pintu. Katanya aku telah mengganggu tidur lelapnya. Ia menuduhku berkhayal mendengar teriakan seseorang.

“Kau hanya bermimpi buruk,” tukasnya.

Padahal, aku yakin sekali suara Ibu-lah yang kudengar.

Kekasih-kekasih ibu sekaligus gosip panas yang menyertainya menghilang bersama waktu yang terkikis. Ibuku akhirnya pensiun dan giliranku membiayai hidup kami karena aku sudah bekerja. Kami sering pergi bersama di akhir pekan, tetapi aku tahu ada misteri dalam dirinya yang tidak pernah dapat kubongkar. Ia selalu menyimpan sesuatu, termasuk tentang penyakit yang ternyata sudah lama menggerogoti tubuhnya.

Ia mengidap kanker leher rahim. Ibuku pergi ke dokter diam-diam dengan uang tabungannya. Ketika aku mulai curiga, ia katakan bahwa masalahnya hanya kista yang baru tumbuh, bukan kanker ganas. Aku tidak tahu harus marah atau sedih. Kucoba untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Aku ingin membuatnya bahagia. Entah bagaimana caranya, karena kurasa aku tak pernah benar-benar mengenal Ibu.

Suatu hari ia berkata waktunya tak akan lama lagi. Tanpa mendengar protesku, ia menggandeng tanganku, “Aku ingin menunjukkanmu sesuatu.”

Ia mengajakku ke loteng. Ya, loteng yang dulu luar biasa menarik. Aku sudah melupakannya, seperti aku lupa wajah Ibu semasa ia menjadi tukang cerita nomor satu.

Begitu pintu terbuka setelah Ibu memutar kuncinya, aku melihat pemandangan yang cukup mengecewakan. Loteng itu berbau apek, penuh debu, dan sarang laba-laba. Di dalamnya ada satu set sofa kuno yang suram dan dimakan rayap. Gelap dan sesak, tapi tak ada harta karun atau ular raksasa.

Tanpa menghiraukan wajahku yang penuh keengganan, Ibu menuntunku menuju sebuah cermin. Ia berdiri tepat di depan cermin itu, lalu menunjuk bayangan di dalamnya.

Ia berujar pasti, “Lihatlah. Itulah Pemintal Kegelapan.”

Aku melongo, sama sekali tidak mengira Ibu mengatakannya. Pemintal Kegelapan hanya percikan masa kecil yang telah kubuang jauh dan kukira telah Ibu lupakan. Namun demi menghormati Ibu, kulihat sekilas pantulan di cermin itu. Bayangan Ibu. Tentu saja.

“Ayo, lihat sekali lagi!” desak Ibu.

Kutajamkan penglihatanku. Kubawa ingatanku pada masa-masa kami masih menikmati misteri loteng itu, mengucapkan selamat datang pada imajinasi liar tanpa batas dan malam-malam meringkuk di balik selimut. Tiba-tiba kusadari aku tengah merinding. Aku memang melihat Ibu. Ya, perempuan itu. Rambutnya terurai, wajahnya penuh guratan pedih, matanya nyalang seperti bola api yang menari-nari melumatkan siapa pun yang menatap. Hantu perempuan yang memendam cinta, rindu, sakit, nafsu, amarah-memintal gairah pekat tanpa henti, tanpa selesai.

Ibu telah jujur pada akhirnya. Tak ada misteri, tak ada teka-teki.

Ibuku Pemintal Kegelapan.


Jakarta, 21 Agustus 2004

============================

Intan Paramaditha adalah penulis dan dosen kajian Media dan Film di Macquarie University, Sydney. Ia meraih gelar Ph.D. (with distinction) dari New York University di tahun 2014.

Novelnya, Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu (Gramedia Pustaka Utama, 2017), diterjemahkan oleh Stephen J. Epstein ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Wandering (Harvill Secker/ Penguin Random House UK, 2020). Novel tersebut masuk nominasi The Stella Prize 2021 di Australia dan mendapat penghargaan Karya Fiksi Terbaik Tempo 2017, English PEN Translates Award, dan PEN/ Heim Translation Fund Grant dari PEN America. Karya-karya lainnya yang terbit dalam bahasa Inggris adalah Apple and Knife (Brow Books, Australia & Harvill Secker, Inggris, 2018), terjemahan Stephen J. Epstein, serta Deviant Disciples: Indonesian Women’s Poets (editor, 2020), bagian dari seri Translating Feminisms penerbit Tilted Axis Press, Inggris. Esainya, “On the Complicated Questions Around Writing About Travel,” terpilih dalam The Best American Travel Writing 2021.